Breaking News
Loading...

Random News

  • New Movies
  • Recent Games
  • Tech Review

Tab 1 Top Area

Tech News

Game Reviews

Recent Post

Tuesday, October 30, 2012
Bung Tomo, Pahlawan yang Sempat Tak Diakui

Bung Tomo, Pahlawan yang Sempat Tak Diakui


“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!”


- Bung Tomo -

Siapa tak kenal Sutomo? Pria yang hampir selalu digambarkan dengan sosok penuh semangat, jari menunjuk ke atas dan tatapan mata tajam di buku-buku pelajaran itu adalah seorang tokoh penting dalam pertempuran besar di Surabaya. Sosok penyebar semangat arek-arek Surabaya yang namanya didengung-dengungkan terutama menjelang Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November itu dikenal sebagai Singa Podium yang pidatonya bukan hanya menghipnotis tapi juga mampu membakar jiwa-jiwa muda yang sedang berjuang melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia pada masa itu.

Lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920, Sutomo atau lebih dikenal sebagai Bung Tomo adalah sosok yang aktif berorganisasi sejak remaja. Tumbuh di masa-masa sulit, masa penjajahan, Bung Tomo menjelma menjadi seorang pemuda yang tangguh. Tertarik dengan dunia jurnalisme, pada masa mudanya Bung Tomo tercatat sebagai wartawan freelance pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya 1937. Pada tahun 1939 Bung Tomo menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa di Ekspres, Surabaya. Terakhir beliau tercatat sebagai Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya 1945.

Jiwa kepahlawanan Bung Tomo tidak perlu diragukan lagi. Sejarah mencatat seorang Bung Tomo sebagai sosok yang cinta tanah air, tak gentar melawan penjajah dan terus mengobarkan semangat para pejuang pada masanya. Sosok yang namanya telah melekat erat pada rakyat Indonesia umumnya serta warga Surabaya, arek-arek Surabaya khususnya, sebagai seorang pahlawan ini ternyata baru mendapat gelar pahlawan setelah dua puluh tujuh tahun wafat.

Sosok yang sejak kita sekolah, diajarkan di pelajaran sejarah, kita anggap sebagai pahlawan karena perjuangannya mulai dari melawan penjajah sampai mempertahankan kedaulatan republik ini yang sempat hendak diusik lagi oleh Belanda ternyata dulunya tidak diakui sebagai pahlawan oleh pemerintah kita. Bung Tomo, pahlawan pengobar semangat juang arek-arek Surabaya ini baru mendapat gelar pahlawan secara resmi dari pemerintah pada tahun 2008, yang disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/TH 2008.

Sesuatu yang menimbulkan tanda tanya besar, meski kemudian jika kita menilik kembali sepak terjang beliau pada masanya hal ini tidak lagi mengejutkan. Bung Tomo bukan hanya seorang pejuang yang kritis terhadap penjajah, beliau adalah sosok yang juga kritis terhadap pemerintah. Pada jaman orde baru, pemerintahan Soeharto, Bung Tomo bahkan sempat dipenjara. Kritik-krtitiknya terhadap pemerintah waktu itu membuat gerah penguasa. Pemikiran-pemikirannya yang kritis bisa dibaca di bukunya, Menembus Kabut Gelap: Bung Tomo Menggugat.

Menurut KBBI, pahlawan diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dulu membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Kalau menilik pendefinisian di atas kiranya tak salah kalau selama ini kita menganggap Bung Tomo sebagai pahlawan meskipun, sekali lagi, ternyata pemerintah kita baru mengakui belum lama ini. Akan tetapi terlepas dari pengakuan pemerintah, ataupun pendefinisian, jasa Bung Tomo patut kita hargai. Bukan itu saja, di masa di mana kita sudah dinyatakan, diakui merdeka tapi ternyata masih “terjajah” ini, jiwa kepahlawanan seperti Bung Tomo sangat dibutuhkan. Bangsa kita butuh pahlawan-pahlawan untuk membawa bangsa ini menuju terwujudnya cita-cita bersama, cita-cita yang tertuang dalam butir-butir Pancasila terutama sila kelima, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Cita-cita yang sepertinya masih sekadar pengakuan, tertulis, resmi, tapi belum benar-benar diamalkan.

Saya yakin Bung Tomo tidak butuh gelar pahlawan. Seorang pahlawan sejati tidak butuh pengakuan, dari siapapun. Bahkan, seorang pahlawan tidak akan merasa dirinya pahlawan karena dia berjuang dengan niat yang ikhlas demi terwujudnya cita-cita bersama, bukan untuk sebuah pengakuan atau sebutan pahlawan. Saya juga percaya ada jiwa pahlawan pada setiap diri manusia. Diakui atau tidak, dihargai atau tidak perjuangan kita, mengutip kata-kata Soe Hok Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran, “Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.”
Sunday, October 28, 2012
Rahasia Tubuh Kencang Madonna

Rahasia Tubuh Kencang Madonna


USIA yang tak lagi muda tak menjadi alasan bagi Madonna untuk kehilangan tubuh bugarnya. Fitness dan olahraga keras menjadi rahasianya.

Siapa tak kenal Madonna? Ratu Pop ini begitu mendunia dengan lagu-lagu kontroversial dan musiknya yang menginspirasi banyak orang. Namun, ada satu lagi yang tak bisa dilupakan ketika membicarakannya, yakni tubuhnya yang seksi dan kencang.

Ternyata, untuk memertahankan bentuk tubuhnya, penyanyi 54 tahun ini berlatih dengan Nicole Winhoffer, creative director dari Hard Candy Fitness Gyms.

“Ini memang pekerjaan yang berat, tapi dengan meluangkan waktu dan usaha 110 persen, Anda dapat melihat hasilnya,” tutur Nicole pada Us Weekly.

“Satu-satunya hal yang konstan ialah perubahan. Olahraga Anda harus berubah dan menantang tubuh dan jiwa. Bila tubuh dan jiwa Anda tidak tertantang, Anda tak akan melihat hasilnya,” sambungnya.
Selain itu, Nicole juga meminta pelantun lagu Material Girl tersebut untuk membuat sebuah goal agar dirinya tetap berusaha mencapai target.

“Konsentrasi pada goal akan membuat Anda mencapainya. Percaya pada diri Anda dan berusaha keras,” tutupnya, sebagaimana dilansir Contact Music.
Friday, October 26, 2012
Benarkah Torpedo Kambing Bikin Seks Makin Dahsyat?

Benarkah Torpedo Kambing Bikin Seks Makin Dahsyat?


Di tempat makan yang menyajikan hidangan kambing, biasanya tergantung torpedo. Pria yang memesannyapun terkesan malu-malu. Pasalnya, sudah menjadi rahasia umum kalau kelamin kambing ini berkhasiat sebagai obat kuat alami. Benarkah khasiatnya demikian hebat?

Di Indonesia, torpedo atau testis kambing biasanya disajikan sebagai sup. Sementara itu, orang Afganistan biasa mengolahnya menjadi torpedo goreng tepung. "Kekuatannya 1000 kali lebih hebat daripada Viagra," kata seorang pedagang torpedo di Kabul, seperti dikutip dari situs SBS (11/02/09).

Tak jauh dari Afganistan, kepercayaan India kuno juga menyebut bahwa torpedo bermanfaat untuk meningkatkan gairah seks. Menurut situs Healthy Place (05/07/11), panduan seks Kama Sutra menyarankan testis domba atau kambing direbus dalam susu.

Selama ini khasiat torpedo kambing untuk kehidupan seks nampaknya masih menjadi mitos. Belum ada penelitian resmi yang membuktikannya. Namun, dr. Phaidon L. Toruan dari Perpasti (Perkumpulan Praktisi Awet Sehat Indonesia) dan praktisi klinis Universitas Indonesia Dr. H. Ari Fahrial Syam membenarkannya.

Berdasarkan informasi yang dilansir Detikhealth (06/11/11), torpedo kambing mengandung testosteron. Testosteron adalah hormon seks pada laki-laki yang berfungsi membangkitkan libido. Konon, untuk mendapat khasiatnya, torpedo harus disantap mentah-mentah. Pasalnya, menurut situs Diet Blog (25/10/12), panas akan merusak kandungan testosteronnya.

Torpedo juga mengandung protein arginin yang dapat meningkatkan senyawa nitro oksida (NO). Senyawa ini dibutuhkan untuk memperlebar pembuluh darah sehingga ereksi bisa berlangsung lebih lama.

Sayangnya, menurut situs Durga Tantra School, efektivitas torpedo kambing terhadap kejantanan pria hanya 30%. Dr. Ari juga mengatakan bahwa manfaatnya tak sehebat yang dibayangkan. "Saya pikir itu karena terlalu di-blow up saja," komentarnya kepada Detikhealth.

Apalagi torpedo kambing sangat tinggi kolesterol. Menurut Diet Blog, per 100 gram torpedo terdapat 375 mg kolesterol. Padahal, asupan yang disarankan oleh Food and Drug Administration (FDA) adalah 300 mg per hari.

"Di dalam tubuh, testosteron juga akan dipecah jadi kolesterol. Kalau berlebihan, efeknya malah bisa menyumbat pembuluh darah. Maunya bergairah, salah-salah justru sakit jantung nantinya," ujar dr. Phaidon kepada Detikhealth.

Di luar khasiatnya untuk seks, torpedo kambing nampaknya bisa jadi sumber protein rendah lemak. Di dalamnya terkandung 26 gram protein dan 3 gram lemak per 100 gram penyajian.

Saturday, October 20, 2012
Dajjal dan Cara Pandangnya

Dajjal dan Cara Pandangnya


Bila kita berbicara tentang ‘Sang dajjal’ apa yang mungkin muncul dalam benak manusia (?) sebagian mungkin akan teringat kepada kisah kisah misterius yang diceriterakan para nabi yang oleh sebagian orang mungkin dianggap lebih mirip sebagai ‘dongeng’ walau tentu tak harus dianggap sebagai ‘dongeng’  sebab para nabi bukan jenis manusia pendongeng.

Yang jelas adalah Dajjal oleh para nabi selalu diidentikan sebagai ‘makhluk yang bermata satu’,tapi baiklah untuk menyingkat tulisan maka saya ingin mencoba menafsirkan sendiri maksud tujuan pemberian nama ‘Dajjal’ dan definisinya sebagai ‘makhluk bermata satu’ itu.

Menurut saya ‘Dajjal’ itu adalah sebutan untuk sebuah karakter cara pandang yang sudah ada sejak zaman dahulu kala sejak zaman para nabi masih ada.’Dajjal’ adalah sebuah karakter cara pandang yang pada dasarnya beranggapan bahwa ‘realitas’ - ‘yang nyata’-‘yang benar’ atau kalau sekarang : ‘yang ilmiah’ adalah segala sesuatu yang nyata-nampak mata dan dalam bahasa sains : ‘yang bisa terbukti secara empirik’ (bukti yang bisa tertangkap mata telanjang),sebab itu hati hati bila anda tengah berdebat tentang masalah ‘kebenaran’ dengan katakanlah ‘agamawan’ dan anda selalu ngotot meminta fakta bukti empirik untuk  sesuatu yang pada dasarnya bersifat gaib-abstrak maka hati hati lah jangan jangan kacamata sudut pandang yang anda pakai adalah kacamata sudut pandang sang…………

Untuk memahami apa  dan bagaimana serta siapa sang Dajjal maka kita harus menelusuri nya dari dasar yaitu dari pemahaman terhadap REALITAS : pada dasarnya Tuhan menciptakan realitas itu sebagai suatu yang memiliki dua sisi-dua dimensi : ada dimensi yang gaib-abstrak (yang tak tertangkap mata telanjang) dan yang lahiriah-material yang bisa tertangkap mata telanjang,semua realitas yang ada-tercipta selalu memiliki dua sisi ini,sebagai contoh : manusia yang terdiri dari jiwa dan raga,komputer yang terdiri dari software dan hard ware

Jadi bila pada dasarnya anda beranggapan bahwa : ‘realitas’ itu adalah ‘hanya segala suatu yang nampak mata’ atau ‘segala suatu yang bisa tertangkap oleh pengalaman dunia indera’ maka bersiaplah untuk menerima pinangan sang dajjal untuk direkrut menjadi anak buahnya.sebab inilah inti atau dasar dari kacamata sudut pandang sang dajjal,walaupun kelak sang manusia berkacamata sudut pandang dajjal ini sudah lulus menjadi filosof atau saintis maka pandangan dasarnya terhadap ‘realitas’ tadi tidak akan berubah.dan pandangan dasarnya terhadap realitas ini kelak mendasari pandangan pandangan filosofisnya atau ideology yang dianutnya.sebab itu coba saja telusuri orang orang tertentu yang mengeluarkan pernyataan atau statement tertentu yang ‘dicurigai’ berbau ‘dajjal’ maka bila ditelusuri ujungnya akan  sampai pada pandangannya yang bersifat mendasar terhadap konsep ‘realitas’ itu.

Sebab itu untuk mudahnya maka kacamata sudut pandang ‘dajjal bermata satu’ itu kita sebut saja ‘kacamata sudut pandang materialist’ karena ia selalu ‘awas’,selalu ‘focus’ kedunia alam lahiriah-material tapi cenderung ‘buta’,cenderung mengabaikan adanya realitas yang gaib-abstrak dibalik realitas yang lahiriah-material.

Sebab itu kebalikan dari kacamata sudut pandang dajjal adalah ‘kacamata sudut pandang yang bermata dua’ atau ‘universalist’, yaitu cara pandang yang selalu melihat realitas secara berimbang antara melihat  ke dunia lahiriah - material dengan melihat ke dunia gaib-abstrak,karena dilandasi oleh keyakinan bahwa ‘realitas’ adalah suatu yang memiliki dua dimensi antara yang lahiriah-material dan yang gaib-abstrak.

Beda cara pandang kedua kacamata sudut pandang yang berbeda ini dalam melihat agama adalah : kacamata sudut pandang universalist bisa melihat agama secara menyeluruh dan bisa membaca konstruksi konsep kebenaran mutlak yang menjadi konstruksi agama  secara konstruktif,sedang kacamata sudut pandang bermata satu hanya bisa melihat agama dari ‘permukaan kulit luar’ dan tidak bisa membaca konsep kebenaran mutlak yang menjadi konstruksi agama secara konstruktif,sehingga ujungnya cara melihat serta membaca agama dengan kacamata sudut pandang ‘mata satu’  itu dalam sejarah sering melahirkan beragam stigma negative yang banyak tertanam dalam benak banyak umat manusia seperti : ‘agama hanya ajaran moral’,’agama suatu yang tidak berdasar ilmu pengetahuan’ dlsb.

Baik kacamata sudut pandang bermata dua (yang didunia ini kekuatannya bertumpu pada agama) maupun kacamata sudut pandang bermata satu masing masing melahirkan beragam konsep tersendiri yang sudah bisa anda bayangkan betapa konsep yang datang dari dua kutub -dua kacamata sudut pandang yang berbeda itu sudah pasti berbeda baik dalam isi maupun tujuannya.

Agama yang eksistensinya didunia senantiasa mewakili kacamata sudut pandang universalist melahirkan beragam konsep seperti : konsep moral,konsep ilmu,konsep bermasyarakat,konsep manusia dan kemanusiaan,konsep ilmu jiwa,konsep hak asasi,konsep pendidikan,konsep rasionalitas, konsep sejarah  dlsb. yang ciri khasnya yang mendasar adalah selalu mengaitkan Tuhan-akhirat-kepentingan ruhaniah - hal yang gaib-abstrak  sebagai pijakan ilmiah - pertimbangan -dan tujuan.

Kacamata sudut pandang bermata satu itupun sebenarnya melahirkan beragam konsep serupa tapi bedanya adalah tidak menjadikan Tuhan-agama-kepentingan ruhaniah-hal yang gaib -abstrak sebagai pijakan ilmiah-pertimbangan dan tujuan.

Hal paling nyata dan paling mendasar diantaranya adalah perbedaan mendasar dalam konsep ‘ilmu’, kacamata sudut pandang materialist mengkonsep ‘ilmu’ sebagai : ‘sesuatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi dan bisa dibuktikan secara empirik’,sedang kitab suci mengkonsep ilmu sebagai : ‘suatu yang harus bisa menerangkan keseluruhan realitas baik yang gaib-abstrak maupun yang lahiriah-material sehingga kedua alam itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai suatu kesatuan system’ sehingga ‘ilmu’ dalam agama tidak bisa dibatasi ‘sebatas wilayah pengalaman dunia indera’.

Dan anda sudah bisa menebak dalam sejarah : mana konsep ‘ilmu’ yang lebih banyak mempengaruhi fikiran umat manusia,sehingga wajar ketika manusia berhadapan dengan argumentasi yang datang dari para agamawan teramat banyak orang yang suka ‘menghantam’ balik dengan,pertanyaan : ‘mana bukti empiriknya?’.
Itulah akhir zaman adalah ‘grand final’ pertarungan antara dua kutub - dua kubu – dua kekuatan besar dunia yang sebenarnya bersifat abstrak dan bentuk pertarungannya pun bersifat abstrak pula -lebih kepada perang konsep-perang ilmu - perang pemikiran,suatu benturan hebat yang mungkin hanya baru sedikit saja tertangkap di permukaan oleh Samuel P. Huntington.

Yang jelas pertarungan itu ujungnya bermuara kepada pertarungan antara kacamata sudut pandang Tuhan yang terkonsep dalam ‘Agama’ vs kacamata sudut pandang manusia yang terkonsep dalam apa yang disebut sebagai ‘isme’.(walau tidak semua ‘isme’ pengertiannya suatu yang berlawanan dengan agama tentunya).dan itulah pertarungan antara ‘kebenaran’ versi ‘ agama’ melawan ‘kebenaran’ versi isme isme tertentu selalu menjadi santapan manusia sehari hari tentunya dan selalu memenuhi opini media massa diseluruh dunia.

Sebuah pertarungan terakhir antara sang pahlawan melawan sang antagonis dunia sebelum Isa Al masih turun kebumi untuk mengangkat kembali harkat-martabat ‘sang pahlawan’ kembali pada kedudukannya yang mulia,dan melempar sang antagonis pada kekalahannya yang terakhir kalinya.

Tapi bagi kita pencari ilmu dan kebenaran kalau mau menjadi ‘penonton’ jadilah penonton yang baik tanpa harus terbawa arus emosi yang berlebihan dan tanpa kendali,sebab adanya benturan antara dua kubu itu sebenarnya justru akan menjadikan kita menjadi bertambah ilmu dan menjadi bertambah bijak dalam menentukan apa yang harus kita pijak……jadi janganlah tulisan ini dianggap ‘memprovokasi’ melainkan hanya untuk petunjuk (ilmu) bagi manusia yang masih bingung perihal : "apa sebenarnya yang tengah terjadi didunia saat ini?"

Jadi bila anda ingat kepada ‘dajjal’ maka lebih baik foKus kepada mengingat adanya suatu cara pandang yang berbeda dengan cara pandang universalistik (bermata dua) yang diarahkan atau diajarkan oleh kitab suci dari pada focus kepada ceritera ceritera makhluk gaib yang wallohu a’lam akan bagaimana bagaimana nya yang kita tidak tahu secara pasti.sebab itu adalah cara paling real dan paling ilmiah untuk memahami ‘dajjal’.
Monday, October 15, 2012
Siapa Sangka, Gurun Sahara Punya 18 Danau Cantik

Siapa Sangka, Gurun Sahara Punya 18 Danau Cantik



Sahara - Siapa tak tahu Gurun Sahara di Afrika Utara? Dataran gersang ini nyatanya punya kesegaran yang berada tepat di jantungnya. Tidak hanya satu, Sahara punya 18 danau yang terbentuk dalam ukuran, kedalaman, pewarnaan, dan rasa yang berbeda.

Gurun Sahara, padang pasir seluas 9 juta km2 ini, sudah populer di telinga wisatawan. Padang pasir terbesar di dunia ini punya panorama alam yang luar biasa. Berada di utara Afrika, gurun ini pun memiliki iklim yang panas. Namun di balik bukit-bukit pasirnya, ternyata Sahara menyembunyikan kesegaran yang berlimpah pada 18 danau yang terletak di jantungnya.

Lakes of Ounianga, danau-danau ini berada pada daerah yang sangat kering di utara Chad. Pada daerah ini curah hujan per tahunnya rata-rata tidak lebih dari 2 mm. Awalnya, sekitar 10.000 tahun yang lalu, Ounianga merupakan sebuah danau yang cukup besar di jantung Gurun Sahara ini. Akan tetapi, iklim kering selama ribuan tahun, Ouniangan menyusut dan angin yang besar menggerakkan pasir ke arah danau hingga membuat danau terbagi dalam cekungan dan bentuk yang lebih kecil.

Sampai saat ini, ada 18 danau yang membasahi jantung Gurun Sahara. Melansir situs World Heritage Convention UNESCO, Senin (15/10/2012), Danau Ounianga terbagi menjadi dua kelompok yang terpisah sekitar 40 km, yaitu Ounianga Kebir dan Ounianga Serir. 

Bentuk kedua danau ini sangat bervariasi dalam komposisi kimiawinya, beberapa sangat asin hanya bisa menjadi pelindung untuk beberapa kehidupan. Sementara lainnya, terasa lebih segar untuk habitat tanaman air, ikan, dan spesies lainnya.

Pada bagian Danau Ounianga Kebir, terdapat empat danau air asin. Dalam daerah ini, Danau Yoan menjadi yang terbesar dengan luas sekitar 358 hektar dan kedalaman mencapai 27 m. Air keempat Danau Ounianga Kebir memang sangat asin sehingga hanya dihidupi oleh ganggang dan beberapa mikro organisme lainnya. Di sekitar danau-danau ini juga terdapat desa dengan jumlah penduduk sekitar 9.000 orang yang tersebar di antara bukit-bukit pasir.

Lain Ounianga Kebir, beda pula dengan Ounianga Serir. Pada kelompok kedua ini terdapat 14 danau air tawar yang terpisahkan oleh bukit pasir. Banyaknya ilalang mengapung dan menutupi hampir separuh permukaan danau ini, mengurangi adanya penguapan.

Pada bagian Serir terdapat Danau Teli sebagai danau terbesar yang memiliki luas sekitar 436 hektar. Akan tetapi, Danau Teli hanya memiliki kedalaman kurang dari 10 m. Sebagai kumpulan danau air tawar, daerah ini menjadi rumah untuk hewan air terutama ikan. Oleh karena itu, Danau Teli menjadi bagian yang sangat penting dalam perjalanan di Gurun Sahara.

Dengan keunikannya ini, Danau Ounianga pun hadir sebagai panorama alam yang luar biasa dengan bentuk dan warna yang beraneka ragam. Namun, karena letaknya yang terpencil, hanya wisatawan benyali lebih yang bisa menemukan jalan tepencil di Chad. Hanya sekitar 500 wisatawan per tahun yang datang dan melihat secara langsung keindahan Danau-danau Ounianga.

Friday, October 5, 2012
Tipu Muslihat AS Dengan Film Innocence of Muslims

Tipu Muslihat AS Dengan Film Innocence of Muslims


Film Innocence of Muslims adalah film yang menghina Rasulullah SAW,sedangkan penghinaan kepada rasulullah SAW adalah suatu hal yang sangat besar dalam agama islam.

Orang Kafir (nasrani dan yahudi) memang sangat semangat untuk mencaci maki islam,menekan islam dan tidak ada lelahnya mencari kesalahan islam dan terus terusan memancing mancing ketabahan kaum muslimin. Salah satu contoh kecil yang terjadi baru baru ini adalah pembuatan dan penyebaran Film  Innocence of Muslims.

Saudaraku! coba anda bayangkan bagaimana perasaan anda,apabila Nabi Muhammad yang sangat mulya yang menjadi contoh yang baik dan patut ditiru oleh semua kaum muslimin dihina??

Pastinya semua yang beriman kepada Allah dan RasulNYA akan marah.
Lalu apa yang terjadi apabila orang sedang marah? Pastinya orang yang marah akalnya tidak akan bisa berfikir sangat jernih. Dalam salah satu riwayat Rasulullah SAW juga pernah beberapa kali memberikan nasehat dan wasiat dengan penyebut لا تغضب  لا تغضب   لا تغضب  yang artinya: Jangan Marah,Jangan Marah,Jangan Marah. Begitu sabarnya Beliau dan begitu indah akhlak beliau.
Namun kita sebagai umatnya,yang mana kita tidak ma’shum seperti beliau,hati kita masih penuh amarah sehingga kita sering kali dikendalikan hawa nafsu dan amarah kita,sehingga kita berbuat semau kita.

Hal ini juga diambil kesempatan oleh kaum kafir. mereka membuat  Film Innocence of Muslims agar kaum muslimin marah dan berbuat sesuatu yang membahayakan kaum kafir,baik itu nasrani maupun yahudi. Dan setelah kaum muslimin melakukan hal itu,maka kaum nasrani dan yahudi (yang tentunya mendapat dukungan kuat dari AS) menyatakan yang berbuat demikian itu adalah teroris.

Dengan menyatakan muslim teroris mereka mempunyai alasan untuk membantai umat islam (kaum muslimin). Begitulah kelicikan Kaum Kafir,kebencian mereka sangat besar kepada islam. Kita yang beragama islam,akan selalu salah menurut mereka,apapun perbuatan kita tidak akan ada benarnya disisi mereka. Film Innocence of Muslims itu hanya sebagai umpan untuk membangkitkan amarah kaum muslimin,sehingga kalau kaum muslimin marah dan berbuat yang brutal maka nantinya kaum nasrani dan yahudi dengan mulut amerika mengatakan ISLAM ITU TERORIS.

Sekarang saja isu isu dan kuda kuda amerika sudah bisa dilihat,bahwa maksud dari pembuatan dan penyebaran  Film Innocence of Muslims hanyalah seperti yang saya sebutkan diatas.

Silahkan anda perhatikan gambar berikut :

ini menggambarkan bahwa islam adalah teroris yang harus dibasmi dan dihancurkan

Siapa di Balik Film Anti-Islam?

LOS ANGELES, KOMPAS.com — Siapa berada di balik sebuah film anti-Islam yang kini mengguncang Timur Tengah masih menjadi misteri. Film tersebut telah memicu protes mematikan di Libya, di tengah klaim yang bertentangan tentang keterlibatan Yahudi atau oknum dari komunitas Koptik. Sutradara film itu, yang menyebut dirinya Sam Bacile, Selasa (11/9/2012), mengatakan, ia seorang Amerika-Israel dan mendapat dukungan dana Yahudi. Ia kini bersembunyi setelah muncul protes di Mesir dan Libya terhadap film berbiaya murahnya itu yang berjudul Innocence of Muslims.


Duta Besar AS untuk Libya Chris Stevens dan tiga warga Amerika lainnya tewas di Benghazi, Libya, Selasa, dalam sebuah aksi protes terhadap film itu, tepat pada peringatan 11 tahun serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat.

Namun, keraguan tentang identitas Bacile berkembang. Pasalnya, berdasarkan laporan media AS, Bacile merujuk ke seorang Koptik California yang dihukum karena terlibat kejahatan keuangan. Ia tinggal di luar Los Angeles.

Teka-teki terkait orang-orang di belakang film itu semakin rumit. Para pemain dan kru film telah menyuarakan kemarahan karena merasa telah dieksploitasi. Setidaknya seorang dari mereka telah mengatakan bahwa bagian-bagian dialog yang bersifat menyerang Islam telah mengalami sulih suara. Kata-kata itu bukan kata-kata mereka sebagaimana ketika film itu disyuting.


Steve Klein, seorang konsultan film itu, membantah bahwa Pemerintah Israel terlibat dalam pembuatan film tersebut. Ia mengatakan, Bacile, yang ia tahu merupakan nama samaran, merasa terganggu setelah mendengar kematian duta besar AS untuk Libya. “Dia sangat marah bahwa duta besar itu terbunuh,” katanya kepada AFP.


Dalam sebuah wawancara dengan harian Wall Street Journal yang diterbitkan Selasa, Bacile terang-terangan menyerang Islam. Dalam wawancara itu, ia mengatakan, dirinya telah mengumpulkan 5 juta dollar AS dari 100 donor Yahudi untuk membuat film itu. Ia mengaku telah memakai jasa sekitar 60 aktor dan 45 kru untuk membuat film berdurasi dua jam tersebut selama tiga bulan pada tahun lalu di California.


Film tersebut sempat diputar di salah satu bioskop di Hollywood sekitar tiga bulan yang lalu. Setelah itu, film tersebut tenggelam tanpa jejak, sampai sebuah versi sulih suara dalam bahasa Arab dirilis minggu lalu dan rekamannya disiarkan stasiun televisi Mesir. Versi itulah yang kemudian memicu protes.

Namun, para pemain dan kru menyatakan kemarahan, Rabu, demikian lapor CNN, yang mengutip pernyataan bersama mereka yang mengatakan, “Seluruh pemain dan kru sangat marah dan merasa dikadali produser.” “Kami 100 persen tidak berada di belakang film itu dan telah dibohongi terkait niat dan tujuannya. Kami sangat terkejut dengan penulisan ulang yang sangat berbeda dari script (awal) dan kebohongan yang telah diberitahu kepada semua yang terlibat.”

Aktris Cindy Lee Garcia, yang memerankan perempuan yang anak gadisnya diserahkan kepada Muhammad untuk dinikahi, mengatakan, dia tidak tahu bahwa film itu merupakan propaganda anti-Muslim. Ia menambahkan, dialog dalam film itu telah disulih ulang setelah syuting. “Itu mestinya sebuah film berdasarkan apa yang terjadi 2.000 tahun yang lalu,” kata Garcia pada situs gosip Gawker. “Tidak ada apa-apa tentang Muhammad atau Muslim atau apa pun.”


Menurut kantor berita AFP, dalam penggalan berdurasi 14 menit dari film itu yang tersedia secaraonline, over-dubbing dalam dialog memang terdengar jelas, bahkan bagi penonton kebanyakan. Sejumlah kata-kata kasar dimasukkan di tengah-tengah kalimat. Sejumlah laporan online yang dikutip blog New York Times menduga Morris Sadek, seorang Koptik kelahiran Mesir, dan sekutunya Terry Jones, seorang Florida yang sebelumnya terkenal dengan rencana aksi pembakaran Al Quran, telah bekerja sama dalam mempromosikan film itu. Namun, Rabu malam, sebuah laporan yang dikutip media AS mengidentifikasi Nakoula Basseley Nakoula yang mengatakan bahwa dialah yang mengelola perusahaan yang memproduksi film tersebut. Ia juga menyatakan, ia seorang Koptik.


Namun, pria 55 tahun itu, yang dijatuhi hukuman 21 bulan penjara atas tuduhan penipuan terhadap bank pemerintah federal pada 2010, membantah bahwa ia merupakan Sam Bacile. Walau berdasarkan penelusuran terhadap sebuah ponsel yang digunakan untuk wawancara dengan sejumlah media pada hari Selasa, ponsel yang digunakan itu berposisi di alamatnya. Sementara Klein mengatakan, ia tidak tahu kebangsaan pembuat film itu. Namun, ia membantah Pemerintah Israel ada hubungannya dengan proyek tersebut. “Saya tahu ada beberapa rumor di luar sana bahwa Israel melakukannya. Bukan. Israel tidak terlibat Ini orang-orang swasta, (mereka pakai) uang pribadi.”


Klein memperingatkan, sutradara film itu bisa mengalami nasib serupa seperti yang dialami pembuat film Belanda, Theo Van Gogh, yang dibunuh tahun 2004 setelah memicu protes dengan sebuah film anti-Islam. “Dia bisa terbunuh, itu benar-benar mudah,” kata Klein.


Rasanya sangat aneh dan tidak masuk akal,kalau amerika tidak bisa menagkap orang orang yang bersalah,seperti siapa siapa saja dibalik pembuatan dan penyebaran Film Innocence of Muslims,sedangkan usamah bin laden saja yang berada diluar negeri dan mempunyai jaringan yang kuat dan berani mati bisa ditangkap.


Amerika sebenarnya bukan tidak tahu,namun amerika memang sengaja tidak mau menindak dan menghukum orang orang yang melecehkan islam,karna amerika memang budak nasrani dan yahudi. Contoh lain para nasrani yang membakar alqur’an,apa ada tindakan yang tegas dari amerika? tidak ada kan?


Gambar ini juga ingin menunjukkan bahwa muslim bersenjata dan sebagai pemicu kehancuran,yang pada intinya mempunyai maksud dengan penjelasan saya diatas,yaitu islam adalah tiroris yang harus dimusnahkan

AS Sudah Tahu Sutradara Film Anti-Islam

WASHINGTON, KOMPAS.com — Seorang pejabat penegak hukum AS, Kamis (13/9/2012), mengatakan, pria bernama Nakoula Basseley Nakoula berada di balik film anti-Islam yang telah memicu serangan massa terhadap misi AS di Mesir, Libya, dan Yaman.


Seorang pria yang menyebut dirinya Sam Bacile mengatakan ia membuat film itu. Kantor beritaAssociated Press (AP) telah mengaitkan Nakoula dengan Bacile. Seorang konsultan untuk film itu, Steve Klein, sebelumnya mengungkapkan bahwa Bacile memang hanya sebuah nama samaran.


Pejabat penegak hukum itu tidak mau disebut namanya karena ia tidak berwenang untuk membahas sebuah investigasi yang sedang berlangsung. Orang yang menyebut dirinya sebagai sutradara film berjudul Innocence of Muslims itu awalnya mengklaim berlatar belakang Yahudi dan Israel. Orang itu pun mengaku telah mendapat sokongan dana jutaan dollar AS dari sekitar 100 donor Yahudi. Namun, sejumlah orang yang terlibat dalam film itu mengatakan, pernyataannya tersebut bohong belaka karena sesungguhnya tokoh kunci di balik film tersebut adalah seorang Koptik dari California selatan.

Nakoula (55) mengatakan kepada AP dalam sebuah wawancara di luar Los Angeles pada Rabu bahwa ia yang mengatur logistik untuk perusahaan yang memproduksi film tersebut. Ia membantah telah menyutradarai film itu, tetapi ia mengaku tahu Sam Bacile, orang yang menyebut dirinya sebagai sutradara film itu.


Namun, dari hasil penelusuran jejak nomor ponsel yang dihubungi AP hari Selasa untuk menghubungi si sutradara yang mengidentifikasi dirinya sebagai Bacile, lokasi pengguna ponsel itu berada di alamat yang sama di dekat Los Angeles, tempat Nakoula berada. Nakoula mengatakan kepada AP bahwa dia seorang Koptik dan mendukung keprihatinan komunitas Koptik terkait ancaman terhadap mereka di Mesir.


Film yang dinilai anti-Islam itu telah memicu protes yang mengakibatkan pembakaran konsulat AS di Benghazi di Libya timur, Selasa. Para pejabat Libya mengatakan, Duta Besar AS untuk negara itu, Chris Stevens, dan tiga warga negara AS lainnya tewas dalam kekerasan itu. Namun, para pejabat AS mengatakan mereka tengah menyelidiki apakah serangan itu merupakan sebuah serangan teroris terencana terkait peringatan 11 tahun serangan 11 September terhadap menara kembar WTC di New York.


Nakoula membantah kalau ia adalah Bacile. Sejumlah dokumen pengadilan federal yang diajukan dalam perkara pidana terhadap dia tahun 2010 menujukkan bahwa Nakoula telah menggunakan sejumlah nama palsu di masa lalu. Di antara nama-nama palsu itu, menurut dokumen tersebut, adalah Nicola Bacily dan Erwin Salameh.


Selama percakapan dengan wartawan AP di luar rumahnya, Nakoula memperlihatkan SIM-nya guna menunjukkan identitasnya, tetapi ibu jarinya tetap berada di atas nama tengahnya, Basseley. Pemeriksaan catatan oleh AP kemudian menemukan nama tengah itu serta hubungan lain ke sosok Bacile.

Film menjijikan. Menlu AS Hillary Clinton telah mengecam film tersebut. Ia menekankan, Pemerintah AS tidak ada hubungannya dengan film itu.

“Bagi kami, bagi saya, secara pribadi, video itu menjijikkan dan tercela. (Film itu) tampaknya punya tujuan sangat sinis, untuk merendahkan sebuah agama besar dan memprovokasi kemarahan,” kata Hillary Clinton, Kamis. “Namun, seperti yang saya tegaskan kemarin, tidak ada justifikasi, sama sekali tidak ada, untuk merespons video itu dengan kekerasan.”


Clinton mengatakan pada peluncuran dialog strategis antara Amerika Serikat dan Maroko bahwa semua “pemimpin di pemerintahan, pemimpin dalam masyarakat sipil, atau tokoh agama harus menarik garis batas yang tegas dengan kekerasan”. “Setiap pemimpin yang bertanggung jawab kini harus berdiri dan menarik garis itu,” tuturnya.

Dari kalimat tersebut,amerika sudah mulai mengambil ancang ancang untuk memvonis kekeresan yang terjadi adalah tindakan para teroris. Satu persatu,golongan kaum muslim yang benar benar cinta kepada agama dan mempunyai kekuatan akan di musnahkan oleh amerika,sehingga nantinya diharapkan hanya tinggal kelompok kecil muslim yang tidak berdaya.




Thursday, October 4, 2012
Menguak Pemikiran Tan Malaka

Menguak Pemikiran Tan Malaka


Amedz Share| Hatinya terlalu teguh untuk berkompromi. Maka ia diburu polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika, dan Jepang di 11 negara demi cita-cita utama: kemerdekaan Indonesia. Ia, Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya ”Bapak Republik Indonesia”. Soekarno menyebutnya ”seorang yang mahir dalam revolusi”. Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.

Sosok Tan Yang Mahir Dalam Revolusi

Ia seorang yang telah melukis revolusi Indonesia dengan bergelora. Namanya Tan Malaka, atau Ibrahim Datuk Tan Malaka, dan kini mungkin dua-tiga generasi melupakan sosoknya yang lengkap ini: kaya gagasan filosofis, tapi juga lincah berorganisasi.

ORDE Baru telah melabur hitam peran sejarahnya. Tapi, harus diakui, di mata sebagian anak muda, Tan mempunyai daya tarik yang tak tertahankan. Sewaktu Soeharto berkuasa, menggali pemikiran serta langkah-langkah politik Tan sama seperti membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Buku-bukunya disebarluaskan lewat jaringan klandestin. Diskusi yang membahas alam pikirannya dilangsungkan secara berbisik. Meski dalam perjalanan hidupnya Tan akhirnya berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), sosoknya sering kali dihubungkan dengan PKI: musuh abadi Orde Baru.

Perlakuan serupa menimpa Tan di masa Soekarno berkuasa. Soekarno, melalui kabinet Sjahrir, memenjarakan Tan selama dua setengah tahun, tanpa pengadilan. Perseteruannya dengan para pemimpin pucuk PKI membuat ia terlempar dari lingkaran kekuasaan. Ketika PKI akrab dengan kekuasaan, Bung Karno memilih Musso—orang yang telah bersumpah menggantung Tan karena pertikaian internal partai—ketimbang Tan. Sedangkan D.N. Aidit memburu testamen politik Soekarno kepada Tan. Surat wasiat itu berisi penyerahan kekuasaan kepemimpinan kepada empat nama—salah satunya Tan—apabila Soekarno dan Hatta mati atau ditangkap. Akhirnya Soekarno sendiri membakar testamen tersebut. Testamen itu berbunyi: ”...jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka.”

Politik memang kemudian menenggelamkannya. Di Bukittinggi, di kampung halamannya, nama Tan cuma didengar sayup-sayup. Ketika Harry Albert Poeze, sejarawan Belanda yang meneliti Tan sejak 36 tahun lalu, mendatangi Sekolah Menengah Atas 2 Bukittinggi, Februari lalu, guru-guru sekolah itu terkejut. Sebagian guru tak tahu Tan pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang dulu bernama Kweekschool (sekolah guru) itu pada 1907-1913. Sebagian lain justru tahu dari murid yang rajin berselancar di Internet. Mereka masih tak yakin, sampai kemudian Poeze datang. Poeze pun menemukan prasasti Engku Nawawi Sutan Makmur, guru Tan, tersembunyi di balik lemari sekolah.

Di sepanjang hidupnya, Tan telah menempuh pelbagai royan: dari masa akhir Perang Dunia I, revolusi Bolsyewik, hingga Perang Dunia II. Di kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia, lelaki kelahiran Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 ini merupakan tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).

Buku Naar de Republiek dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian itu telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemuda radikal Sayuti Melik, misalnya, mengenang bagaimana Bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Waktu itu Bung Karno memimpin Klub Debat Bandung. Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantaran menyimpan buku terlarang ini. Tak aneh jika isi buku itu menjadi ilham dan dikutip Bung Karno dalam pleidoinya, Indonesia Menggugat.

W.R. Supratman pun telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukkan kalimat ”Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari Massa Actie, pada bab bertajuk ”Khayal Seorang Revolusioner”. Di situ Tan antara lain menulis, ”Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri.... Kewajiban seorang yang tahu kewajiban putra tumpah darahnya.”

Di seputar Proklamasi, Tan menorehkan perannya yang penting. Ia menggerakkan para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), 19 September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan ”masih sebatas catatan di atas kertas”. Tan menulis aksi itu ”uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan”. Setelah rapat ini, perlawanan terhadap Jepang kian berani dan gencar.

Kehadiran Tan di Lapangan Ikada menjadi cerita menarik tersendiri. Poeze bertahun-tahun mencari bukti kehadiran Tan itu. Sahabat-sahabat Tan, seperti Sayuti Melik, bekas Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo, dan mantan Wakil Presiden Adam Malik, telah memberikan kesaksian. Tapi kesaksian itu harus didukung bukti visual. Dokumen foto peristiwa itu tak banyak. Memang ada rekaman film dari Berita Film Indonesia. Namun mencari seorang Tan di tengah kerumunan sekitar 200 ribu orang dari pelbagai daerah bukan perkara mudah.

Poeze mengambil jalan berputar. Ia menghimpun semua ciri khas Tan dengan mencari dokumen di delapan dari 11 negara yang pernah didatangi Tan. Tan, misalnya, selalu memakai topi perkebunan sejak melarikan diri di Filipina (1925-1927). Ia cuma membawa paling banyak dua setel pakaian. Dan sejak keterlibatannya dalam gerakan buruh di Bayah, Banten, pada 1940-an, ia selalu memakai celana selutut. Ia juga selalu duduk menghadap jendela setiap kali berkunjung ke sebuah rumah. Ini untuk mengantisipasi jika polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, atau Amerika tiba-tiba datang menggerebek. Ia memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer, dua kali jarak yang ditempuh Che Guevara di Amerika Latin.

Satu lagi bukti yang mesti dicari: berapa tinggi Tan sebenarnya? Di buku Dari Penjara ke Penjara II, Tan bercerita ia dipotret setelah cukur rambut dalam tahanan di Hong Kong. ”Sekonyong-konyong tiga orang memegang kuat tangan saya dan memegang jempol saya buat diambil capnya. Semua dilakukan serobotan,” ucap Tan. Dari buku ini Poeze pun mencari dokumen tinggi Tan dari arsip polisi Inggris yang menahan Tan di Hong Kong. Eureka! Tinggi Tan ternyata 165 sentimeter, lebih pendek daripada Soekarno (172 sentimeter). Dari ciri-ciri itu, Poeze menemukan foto Tan yang berjalan berdampingan dengan Soekarno. Tan terbukti berada di lapangan itu dan menggerakkan pemuda.

Tan tak pernah menyerah. Mungkin itulah yang membuatnya sangat kecewa dengan Soekarno-Hatta yang memilih berunding dan kemudian ditangkap Belanda. Menurut Poeze, Tan berkukuh, sebagai pemimpin revolusi Soekarno semestinya mengedepankan perlawanan gerilya ketimbang menyerah. Baginya, perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan Indonesia 100 persen dari Belanda dan Sekutu. Tanpa itu, nonsens.

Sebelum melawan Soekarno, Tan pernah melawan arus dalam kongres Komunisme Internasional di Moskow pada 1922. Ia mengungkapkan gerakan komunis di Indonesia tak akan berhasil mengusir kolonialisme jika tak bekerja sama dengan Pan-Islamisme. Ia juga menolak rencana kelompok Prambanan menggelar pemberontakan PKI 1926/1927. Revolusi, kata Tan, tak dirancang berdasarkan logistik belaka, apalagi dengan bantuan dari luar seperti Rusia, tapi pada kekuatan massa. Saat itu otot revolusi belum terbangun baik. Postur kekuatan komunis masih ringkih. ”Revolusi bukanlah sesuatu yang dikarang dalam otak,” tulis Tan. Singkat kata, rencana pemberontakan itu tak matang.

Penolakan ini tak urung membuat Tan disingkirkan para pemimpin partai. Tapi, bagi Tan, partai bukanlah segala-galanya. Jauh lebih penting dari itu: kemerdekaan nasional Indonesia. Dari sini kita bisa membaca watak dan orientasi penulis Madilog ini. Ia seorang Marxis, tapi sekaligus nasionalis. Ia seorang komunis, tapi kata Tan, ”Di depan Tuhan saya seorang muslim” (siapa sangka ia hafal Al-Quran sewaktu muda). Perhatian utamanya adalah menutup buku kolonialisme selama-lamanya dari bumi Indonesia.

Berpuluh tahun namanya absen dari buku-buku sejarah; dua-tiga generasi di antara kita mungkin hanya mengenal samar-samar tokoh ini. Dan kini, ketika negeri ini genap 63 tahun, artikel ini mencoba melawan lupa yang lahir dari aneka keputusan politik itu, dan mencoba mengungkai kembali riwayat kemahiran orang revolusioner ini. Sebagaimana kita mengingat bapak-bapak bangsa yang lain: Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Mohammad Natsir, dan lainnya.

Tan Malaka filsuf tersohor Indonesia meninggalkan misteri dari sisi kehidupannya, tapi menghidupkan akal sehat manusia ketimuran dengan karya terbaiknya. Materialisme, Dialektika dan Logika (Madilog). Mahakarya ini menempatkan Tan Malaka sebagai salah satu tokoh filsuf Indonesia, bahkan tidak sedikit orang yang mengatakan Tan Malaka adalah satu-satunya filsuf yang dimiliki oleh Indonesia.

Perjalanan hidup Tan Malaka melahirkan kontroversi dan tanda tanya di penghujung hayatnya, karena kaburnya jejak kehidupan Tan Malaka seperti hilang di telan bumi, hilang yang tak tau rimbanya, mati yang tak tau kuburnya, ia raib bersama orisinalitas pemikirannya, kabur bersama konsistensi dan komitmen hidupnya, tetapi kekuatan berpikir yang dimiliki Tan Malaka disandarkan kepada hasil berpikir ilmiah yang berangkat dari problematika sosial ke Indonesiaan.

Komitmen ke Indonesian Tan Malaka mewarnai perantauannya yang melanglangbuana kebeberapa negara, diawali dengan pendidikan dasarnya di Bukittinggi di teruskan pendidikan menengah di Harlem Belanda. Bangunan Ke Indonesiaan Tan Malaka tetap kokoh, terbukti pada tahun 1919 Tan Malaka kembali untuk cita-cita melepaskan Indonesia dari cengkraman penjajahan kolonial Belanda, dengan menggalang kekuatan Islam dan Komunis di Sarikat Indonesia (SI). Walaupun pada tahun 1921 SI pecah dan Tan Malaka diangkat menjadi ketua Partai Komunis Hindia yang didalam sejarah disebut dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Strategi, taktik dan keberanian Tan Malaka memberikan perlawan secara terbuka terhadap penjajahan Belanda membuat Belanda terusik dan terancam sehingga Belanda membuangnya ke Amsterdam Belanda. Dalam pembuangannya Tan Malaka dapat melakukan pelarian ke berbagai negara seperti Rusia untuk menghadiri konferensi Komunis Internasional (Komintern) keempat di Moskow, kemudian ia diangkat sebagai wakil Komintern untuk Asia Timur yang berkedudukan di Kanton Cina, sejak tahun 1923.

Hidup Tan Malaka dengan status sebagai buangan tetap menghantui pelariannya karena kerap kali Tan Malaka tertangkap dan juga sering lolos dari jeratan penangkapan musuh. Tan Malaka baru masuk kembali ke Pulau Jawa setelah Jepang menduduki Jawa, dengan menggunakan nama samaran ia menunggu waktu yang tepat bagi rakyat Indonesia untuk memerdekakan diri. Kehadiran Tan Malaka di Indonesia di ketahui pada tanggal 25 Agustus 1945 sejak itulah ia hidup dengan nama Tan Malaka sampai zaman mengantarnya kepada kematian pada tahun 1949. Kematian itulah yang sampai saat ini menjadi misteri Tan Malaka.

JEMBATAN KELEDAI TAN MALAKA


Kata Jembatan Keledai sangat sering muncul dalam tulisan Tan Malaka di dalam bukunya yang berjudul Madilog. Penulis sangat kagum dengan perjuangan Tan Malaka dalam memelihara inggatannya, sebagai akibat dari keterbatasannya dalam menulis pokok-pokok pikiran penting dari sesuatu yang ia baca, amati dan ia lihat. Sebagai seorang buronan dalam pelarian tentu sangat logis kalau pelarian tidak diberatkan oleh beban-beban seperti catatan ataupun buku, tetapi sosok Tan Malaka tidak pernah kehilangan akal karena ia mempunyai Jembatan Keledai (ezelbruggetje) yang selalu tersimpan di dalam otaknya.

Tan Malaka berkata walaupun ia tiada memiliki pustaka, walaupun buku-bukunya telantar, cerai berai dan lapuk atau hilang di Eropa, Tiongkok, Lautan Hindia atau hilang di dalam empang rumah tuan Tan King Tjan di Upper Serangoon Road, Singapura bukan berarti ia kehilangan isi buku-buku itu dan catatan boleh saja rusak tetapi Tan Malaka tidak pernah kehilangan akan ilmunya. Maka tidak menjadi mustahil kalau Tan Malaka memiliki berpuluh-puluh Jembatan Keledainya yang terpelihara dan terawat dengan baik sampai akhir hayatnya.

MADILOG DAN PEMIKIRAN MISTIK KETIMURAN

Madilog merupakan karya tersohor Tan Malaka yang mendapatkan pengakuan dari filsuf dunia, karena kemampuan dan kekuatan berpikir Tan Malaka yang mampu mengabungkan tiga aliran filsafat yakni Materialisme, Dialektika dan Logika menjadi satu konsep berpikir. Bila kita membaca Madilog maka sangat terasa buku ini berkerabat dengan materialisme dialektik Friedrich Engels yang tak lain merupakan konco sahabat karib dari Karl Marx yang menyempurnakan filsafat sosial Marx dengan filsafat alam dan ontologi materialis yang kemudian akan menjadi dasar filosofis Marxisme-Leninisme). Tan Malaka sendiri secara jujur mengatakan bahwa Materialisme dan dialektika bukanlah produk asli dari pemikirannya melainkan diambil dari Engels, Lenin dan tokoh-tokoh lain Marxisme-Leninisme, tetapi hebatnya Tan Malaka, ia mampu melepaskan Madilog dari bau-bau Marxisme Leninisme.

Penekanan kekuatan berpikir Tan Malaka yang menjadi ciri khas dari sosok filsuf Tan Malaka terletak pada logikanya. Tan Malaka secara khusus membahas Logika dan Dialektika, beliau menyebutkan bahwa logika tidak dibatalkan oleh dialektika, melainkan tetap berlaku dalam dimensi mikro. Tan Malaka justru menunjukkan bahwa pemikiran logis, dengan paham dasar dialektis, membebaskan ilmu pengetahuan untuk mencapai potensialitas yang sebenarnya. Tan Malaka melihat dan berkeyakinan bahwa kemajuan umat manusia dilakukan melalui tiga tahap dari logika mistika lewat filsafat ke ilmu pengetahuan atau sains.

Penulis memandang Tan Malaka sangat gelisah dan risau dengan keterbelakangan kejumudan berpikir masyarakat ketimuran Indonesia oleh logika mistika, yakni logika gaib dimana orang percaya bahwa yang terjadi di dunia adalah kekuatan-keuatan keramat alam gaib sehingga ia berharap kekuatan-kekuatan ghaib tersebutlah yang akan membantu ia terlepas dari belenggu keterbelakangan dan kepicikan berpikir orang Indonesia saat itu, menyebabkan pudarnya keberanian dalam mengusir penjajah, dalam bahasa lain yang lebih populer penulis lebih nyaman menggunakan kata Tahayul, Khurafat dan Bit’ah (TBC).

Berangkat dari sebuah fenomena sosial yang akut itu, Tan Malaka berusaha menjadi aktor perubahan melalui materialisme, dialektik dan logika (Madilog) yang merupakan cara berpikir sebagai bentuk perlawanan atas cara berpikir mistik timur untuk mengubah masyarakat Indonesia agar berpikir lebih rasional. Menurut Tan Malaka pikiran manusia bersifat kreatif sehingga manusia itu sendiri dapat mengubah dirinya sendiri, tetapi pikirannya terlebih dahulu harus logis, realistis dan dinamis. Untuk mengwujudkan pikiran tersebut maka seseorang harus terdidik, agar dapat menjadi orang terdidik disanalah dibutuhkan peran sekolah. Kesadaran bersekolah pada saat itu masih sangat rendah, dengan sendirinya orang-orang terdidik pada saat itu sangat sedikit. Tan Malaka berpendapat sesuatu tidak berubah dengan sendirinya harus ada usaha untuk merobahnya.

TAN MALAKA DAN KEISLAMAN

Minangkabau adalah daerah yang pondasi ke Islamannya sangat kuat, filosofisnya adalah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Sangat tegas filosofis ini menyabarkan bahwa alam Minangkabau adalah alam yang bersandikan kepada kitabullah yakni kitab Allah. Adat tidak berdiri sendiri tetapi adat harus sesuai dengan komitmen ke Islaman. Alam inilah yang melahirkan sekaligus membesarkan seorang filsuf Tan Malaka. Secara otomatis tentu Tan Malaka dilahirkan di tengah-tengah keluarga Islam.

Sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga yang taat dalam beragama tentu Tan Malaka belajar agama seperti menghafalkan Al-Qur’an dan mempelajari dasar-dasar agama Islam, sebagaimana anak-anak kampung di pelosok Minangkabau yang belajar di surau-surau, bahkan ia juga sempat aktif mengajar mengaji anak-anak yang lain. Tan Malaka beberapa kali menyelesaikan terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Belanda.

Tan Malaka mengatakan pada saat menyaksikan ibunya yang sedang sakit, menentang malaikat maut sambil menyebut Juz Yasin berkali-kali dan Bapaknya pingsan di dalam air pada saat mau berwudhuk untuk melaksanakan sholat, bahkan pada saat di Belanda ia mengatakan sering membeli sejarah dunia berjilid-jilid yang disana juga ada sejarah Islam, ia juga mengkaji Islam lewat tulisan-tulisan pengamat Islam bangsa Belanda, Snouck Hurgronje dan Tan Malaka membandingkan semua itu dengan karya-karya filosof dan pemikir Eropa.

Penulis berpendapat walaupun Tan Malaka sangat mengerti Islam tetapi Tan Malaka memiliki pandangan yang berbeda terkait dengan Islam. Sistem filsafatnya terpengaruh oleh sistem filsafat bangsa Barat. Dalam Madilog, Tan Malaka menulis, agama Yahudi, Nasrani dan Islam memiliki kedudukan yang sama, Tan Malaka juga berpendapat Tuhan lebih berkuasa dari hukum alam, akan tetapi selama alam semesta ada selama itu pula hukum alam berlaku. Menurut hukum alam, materilah yang mengandung kekuatan. Berdasarkan hukum alam, materi-materi yang ada bergerak, bersatu, berpisah, tarik-menarik dan lain seterusnya.

Tan Malaka tidak dapat kita pungkuri adalah filsuf yang kontroversi, ia lenyap dalam misteri kontroversinya. Tetapi tidak dapat kita picingkan mata bahwa karya Madilog Tan Malaka adalah mahakarya yang tidak mungkin lahir dari orang-orang biasa. Madilog berperan mengubah kejumudan berpikir orang-orang ketimuran yang berimplikasi kepada meningkatnya nasionalisme kebangsaan untuk mengwujudkan manusia Indonesia yang merdeka dari penjajahan. Seiring dengan kepergian Tan Malaka yang tak tau entah dimana kuburnya, namun pemikirannya telah berbuah yakni Republik Indonesia yang dulu sangat di cita-citakannya. Pada masa depan Tan Malaka baru harus lahir dari rahim Republik Indonesia, untuk terus mengisi kemerdekaan guna mengwujudkan Indonesia Jaya. Indonesia yang adil dan sejahtera.

Bahan Bacaan : Malaka,Tan, MADILOG (Materialisme Dialektika Logika). 1951. Jakarta; Pusat Data Indikator

Lokasi Makam D.N Aidit (Ketua PKI) Akhirnya Terkuak

Lokasi Makam D.N Aidit (Ketua PKI) Akhirnya Terkuak


Amedz Share| Setiap bulan September, kita selalu rutin mengibarkan bendera Sang Merah Putih setengah tiang untuk mengenang tragedi berdarah 30 September 1965 yang selalu digembar-gemborkan oleh rezim Orde Lama didalangi oleh PKI, dimana DN Aidit menjadi "godfather"-nya.

Menurut cerita sejarah yang dipelajari di sekolah dan diorama museum pengkhianatan G30S/PKI di Lubang Buaya, DN Aidit ditangkap di Solo. Namun setelah itu tidak ada yang tahu menahu kelanjutan nasibnya, bahkan dimana lokasi makamnya, semua gelap.

Tapi, konon ia dimakamkan di Boyolali, di sebuah tempat yang tidak disangka-sangka

Hamparan berpasir itu ditumbuhi labu siam dan ubi jalar. Pohon mangga dan jambu biji menaunginya di kanan-kiri. Hanya itu. Tak ada satu pun penanda yang menunjukkan bekas sumur di pekarangan belakang gedung tua itu. Dulu, bangunan ini adalah bagian dari kompleks markas Batalion 444 TNI Angkatan Darat di Boyolali--sebuah kota kabupaten sekitar 25 kilometer di sebelah barat Solo, Jawa Tengah.

Meski tak berbekas, banyak orang meyakini, di sepetak halaman itu pernah ada sebuah sumur tua tempat jenazah Dipa Nusantara Aidit, Ketua Umum Komite Sentral PKI, dikuburkan pada akhir November 1965. Salah satunya Ketua Nahdlatul Ulama Boyolali, Tamam Saemuri, 71 tahun.

Pada suatu malam di tahun 1965, dia bertemu Kolonel Yasir Hadibroto dalam sebuah rapat organisasi massa di pendapa kabupaten. Saat itu Tamam muda adalah aktivis Gerakan Pemuda Ansor yang terlibat dalam ”operasi pembersihan”. Dia bercerita bahwa dalam pertemuan itu Yasir mengumumkan pasukannya telah menembak mati Aidit beberapa hari sebelumnya. ”Eksekusinya subuh-subuh,” Tamam menirukan Yasir.

Seakan meneguhkan ucapan kepada lawan bicaranya, Yasir menunjukkan jam tangan yang dia kenakan. ”Ini arloji Aidit,” katanya. Sewaktu Tamam mendesaknya menceritakan bagaimana pucuk pimpinan PKI itu tewas, Yasir berujar, ”Dia diberondong senapan AK sampai habis 1 magasin.”

Sejumlah sumber lain membenarkan cerita Tamam. Setelah puluhan tahun, cerita itu sampai juga ke telinga putra Aidit, Ilham. Empat tahun lalu dia memutuskan datang sendiri ke tempat yang diduga sebagai pusara ayahnya. ”Sejak lulus kuliah sampai 1998, saya selalu mencari kuburan ayah dengan sembunyi-sembunyi,” katanya tatkala dihubungi pekan lalu. Saat itu dia hanya berbekal sepotong informasi dari koran bahwa Aidit tewas ditembak di Boyolali. Berbilang kawan dekat ayahnya dia tanyai, tapi tak ada satu pun yang tahu nasib Aidit selepas meninggalkan Ibu Kota.

Menemukan makam Aidit bukan perkara mudah, bahkan bagi anaknya sekalipun. Ada upaya sistematis untuk membuat peristirahatan terakhir Aidit dilupakan orang. Sumur tua itu, misalnya, sampai dua kali diuruk batu setelah November 1965. Kompleks gedung markas Batalion 444 juga dibongkar dan kini hanya menyisakan sebuah gedung tua. Gedung itu sekarang digunakan sebagai mes pegawai Komando Distrik Militer (Kodim) Boyolali.

Batalion 444 dikenal sebagai kesatuan tentara pro-komunis. Salah satu komandan kompinya adalah Letnan Kolonel Untung Syamsuri, yang kemudian memimpin operasi penculikan sejumlah jenderal pada malam 30 September. Tahun-tahun menjelang 1965, Boyolali juga dikenal sebagai basis PKI Jawa Tengah. Dalam pemilu 1955 dan pemilihan kepala daerah tiga tahun sesudahnya, PKI meraih kemenangan besar di sana.

Pencarian Ilham baru berbuah ketika sebuah lembaga swadaya masyarakat lokal di Boyolali menghubunginya dan menceritakan temuan mereka. “Mereka mengetahui lokasi ini dari sumber-sumber kredibel yang terlibat langsung dalam pembunuhan anggota PKI saat itu,” kata Ilham.

Seperti dilansir Tempo, seorang penghuni di mes Kodim membenarkan pekarangan belakang gedung itu disebut-sebut sebagai lokasi kuburan Aidit.

Dia menambahkan, telah lama warga setempat berusaha menghindari bekas sumur tua itu. ”Pernah ada orang yang mau membuat bak sampah tepat di atasnya, tapi cangkulnya membentur batu keras,” katanya. Saat bergeser beberapa meter ke samping, justru muncul pecahan tulang tempurung tengkorak. Lubang itu buru-buru ditutup lagi. Si penghuni ini menolak disebut namanya karena khawatir keselamatannya terancam.

Tak sampai 100 meter dari lokasi itu, ada sebuah tanah lapang lain yang juga disebut-sebut berhubungan dengan Aidit. Di sanalah, konon, Aidit yang juga menjabat Wakil Ketua Majelis MPR Sementara itu ditembak mati. Pekarangan tersebut bagian dari satu rumah berarsitektur tua di belakang gedung Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah. Kini rumah itu tampak terkesan tak terurus dan ditempati lima keluarga berbeda.

”Jadi, setelah ditembak di sana, baru jenazahnya dimasukkan ke sumur di sebelahnya,” kata Ilham. Pada 1965, rumah itu digunakan sebagai Sekolah Pendidikan Guru. Lokasinya tak jauh dari Pasar Boyolali, yang berhadap-hadapan dengan markas polisi militer Kodim Boyolali dan gedung yang dulu digunakan sebagai Sekretariat PKI.

Mbah Jungkung, seorang pensiunan pegawai negeri setempat yang banyak mengetahui ihwal kejadian pada masa itu, membenarkan kisah Ilham. Bahkan, menurut dia, gedung sekolah itu dahulu dijadikan semacam kamp tahanan. Para anggota dan simpatisan PKI dikumpulkan di situ sebelum dieksekusi.

Ketika akhirnya berdiri di samping pusara ayahnya pada 2003 lalu, Ilham mengaku tak kuasa menahan getaran hatinya. ”Naluri saya mengatakan memang di sinilah tempatnya,” katanya dengan suara tercekat. Putra Aidit itu juga mengaku memendam keinginan untuk memindahkan jenazah ayahnya ke tempat yang layak. ”Tapi mungkin belum bisa sekarang,” katanya pelan. ”Kami harus bersabar.”

(Tempo Edisi i. 32/XXXVI/01 - 7 Oktober 2007)