Breaking News
Loading...

Random News

  • New Movies
  • Recent Games
  • Tech Review

Tab 1 Top Area

Tech News

Game Reviews

Recent Post

Wednesday, July 17, 2013
no image

Jono 'GBS' Bicara Soal Perjalanannya ke Aceh Hingga Jadi Mualaf

EBOOK ISLAMI GRATIS DISINI

http://images.detik.com/content/2013/07/18/230/gbs3.jpg
Jakarta - Bassis band Gugun Blues Shelter (GBS), Johnathan Amstrong atau biasa disapa Jono menceritakan perjalanan religinya yang membuatnya hingga menjadi seorang mualaf. Sebelumnya, Jono berasal dari keluarga Kristen yang taat, namun Aceh mengubah hidupnya.

Jono mengatakan, beberapa tahun lalu dirinya menginjakkan kaki pertama kalinya di tanah rencong. Di sanalah dirinya langsung berkenalan dengan Islam.

"Karena aku pertama kali ke negara Islam, langsung ke Indonesia, Aceh lagi. Dan, di sana Islam sangat kuat. Aku lihat orang-orang di sana sangat friendly, terus kekeluargaan masih kental," kata Jono yang sudah lumayan fasih berbahasa Indonesia meski terkadang masih sedikit terbata itu, Rabu (17/7/2013) malam.

"Jadi saya semakin penasaran, kok bisa begini ya? Dari situ saya mulai tanya-tanya tentang Islam. Terus dijelasin sama teman-teman. Dari situ saya beli Al Quran berbahasa Inggris, saya pelajari," sambung Jono.

Jono yang asli London-Inggris itu pun semakin mendalami Islam sejak itu. Perjalanan ke Aceh itu sebenarnya tak disengaja, karena ia memang harus transit ke Asia.

Saat transit ke Indonesia itulah akhirnya Jono memilih Aceh sebagai tempat berlabuhnya sejenak. Tak disangka, Aceh memang membuat hidupnya berubah. Setelah pulang ke negara asalnya, Jono pun merindukan Aceh.

Pergolakan batin pun dirasakan semenjak mengenal Islam. Singkat cerita, Jono lantas kembali ke Aceh dan akhirnya bertemu dengan wanita yang menjadi pendampingnya kini, Fauziah.

Jono pun akhirnya menikahi Fauziah dan memeluk Islam. "Dari situ penasaran saya nggak berhenti, baru saya ketemu sama istri. Dia jelasin lebih dalam lagi. Dari situ saya memutuskan untuk menjadi mualaf," kisahnya.

(kmb/mmu) 
Pemain Muslim di Liga Inggris dan Argumen 'Pusat-Pinggiran' dalam Konteks Sepakbola

Pemain Muslim di Liga Inggris dan Argumen 'Pusat-Pinggiran' dalam Konteks Sepakbola

EBOOK ISLAMI GRATIS DISINI
thumbnail
Beberapa hari lalu, menyambut bulan puasa, BBC menayangkan sebuah program menarik: bagaimana pemain muslim perlahan ikut mengubah wajah Liga Primer Inggris.

Data resmi meyebutkan setidaknya 40 pemain di Liga Primer menyebut diri mereka Islam. Masih belum luar biasa dari segi jumlah -- kurang 10 persen dari keseluruhan 540 pemain dari 20 klub yang terdaftar di Liga Primer. Meski sedikit dari segi jumlah, tapi dampaknya tak bisa diabaikan. Demikian kira-kira pesan dokumenter BBC tersebut. 

Contoh pengaruh itu bertebaran. Misalnya, Liverpool hanya menyediakan ayam halal untuk dikonsumsi para pemain di musim latihan, karena baik yang muslim maupun bukan, sama-sama bisa mengonsumsinya; Newcastle menyediakan musola di St James Park; Arsenal memberi waktu luang bagi pemain yang ingin menjalankan sholat.

Tidak terbatas pada tiga klub itu saja tentunya, hampir semua klub yang memiliki pemain muslim memberikan konsesinya masing-masing agar mereka bisa semaksimal mungkin menjalankan kewajiban. Toh prinsipnya bagi klub-klub ini, kalau pemain senang, maka kerja mereka akan maksimal, dan klub juga yang akan meraih keuntungan.

Walau sifatnya masih semi resmi, bahkan ada kursus bagi para calon pelatih untuk memahami ritual seperti puasa dan sholat yang harus dijalani pemain muslim. Tujuannya sederhana, agar potensi konflik bisa dikurangi dan keseimbangan yang mutualistis bisa dicapai.

Bank Barclays sebagai sponsor Liga Primer bahkan tidak lagi memberi sampanye bagi mereka yang dipilih menjadi man of the match. Tidak untuk pemain muslim maupun non-muslim.

Awal sebabnya sederhana. Yaya Toure pernah dengan sopan menolak pemberian sampanye itu dengan mengatakan dirinya muslim dan tidak minum alkohol. Sialnya, pemain sekaliber Yaya seringkali menjadi man of the match. Begitupun dengan beberapa pemain muslim lain. Karenanya diputuskan, untuk tidak mempermalukan kedua belah pihak lebih baik sampanye diganti semacam trofi, karena ternyata pemain non-muslim juga tak keberatan sama sekali dengan pergantian itu.


Bahkan konon perayaan kemenangan di ruang ganti pemain, lengkap dengan semburan sampanye, dilakukan setelah pakaian para pemain muslim disingkirkan terlebih dahulu supaya tidak terkena percikan minuman beralkohol itu.

Dengan banyaknya pesepakbola muslim, para pemain yang dikenal atau dianggap insular -- tak peduli dengan kehidupan lain di luar sepakbola --, menjadi sedikit banyak mengerti apa itu Islam dan hal-hal yang terkait dengan ajaran itu.

Pengaruhnya tidak sebatas di kalangan administrator klub dan liga saja, tetapi juga di kalangan penonton dan suporter. Misalnya pendukung Newcastle punya lagu pujaan khas untuk Demba Ba, sewaktu ia masih bermain di sana, yang mengaitkan kemampuannya mencetak gol dengan bulan Ramadan. Ba dikenal sebagai salah satu pemain yang selalu berpuasa, tak peduli apakah itu hari latihan dan pertandingan. Kalau sebelumnya penggemar Newcastle tidak tahu sama sekali apa itu Islam dan apa yang terjadi selama Ramadan, pemahaman mereka dengan adanya lagu itu tidak akan lagi nol sama sekali.

Anak-anak pendukung Newcastle, serta siapapun yang suka dengan Ba dan Papis Cisse -- yang juga seorang muslim yang taat, banyak meniru perayaan gol mereka dengan bersujud syukur (di atas lapangan). Tentu anak-anak itu tidak paham sama sekali mengapa Ba dan Cisse melakukannya. Tetapi sekali lagi, ada dimensi kehidupan lain yang mulai menyusup tanpa disadari bahkan sejak kanak-kanak.


Apa yang saya tulis di atas sebenarnya tak lebih dari ringkasan dari program dokumenter yang saya lihat itu. Tetapi saya ingin berbagi, bukan karena persoalan Islam, muslim ataupun persoalan kegamaan karena kebetulan bulan Ramadan.

Program dokumenter itu mengingatkan akan sebuah mata kuliah yang pernah saya ikuti nun seperempat abad yang lewat. Sebuah mata kuliah yang membahas hubungan antara apa yang disebut centre (pusat) dengan periphery (pinggiran).

Maafkan kalau terkesan menggurui dan sok ilmiah dalam memahami film dokumenter itu. Tetapi bagi Anda yang belajar imu politik, sosial atau kebudayaan pastilah pernah mendengar persoalan ini. Inti pembahasannya sederhana saja, mengenai bagaimana dalam dunia yang semakin saling terkait ini terjadi sebuah arus balik di mana berbagai ide, pergolakan kehidupan dan kebiasaan yang terjadi di wilayah-wilayah yang disebut pinggiran ikut mempengaruhi dan membentuk tata kehidupan yang ada di kawasan yang disebut pusat-pusat peradaban. Merombak adagium bahwa pusatlah yang selalu mempengaruhi pinggiran.

Di bidang musik, drama, kesusastraan dan filsafat -- yang saya sedikit mengerti karena ketertarikan pribadi -- hal ini sangat jamak terjadi. Tidak karena dirancang (by design), tetapi terjadi secara organik (alami) mungkin karena sifat empat bidang itu yang selalu mencoba melakukan ekspansi, mencari elemen baru, mencari pemahaman yang utuh akan kehidupan.

Anda yang menekuni bidang lain, seperti politik dan ekonomi, pasti juga akan dengan mudah menunjukkan unsur-unsur hubungan pusat dan pinggiran ini.

Di sinilah film dokumenter BBC itu menjadi menyenangkan buat saya. Ia dengan sangat mudah dipahami untuk memberi gambaran aplikasi praktis yang gamblang akan teori hubungan pusat dan pinggiran. Mungkin karena prosesnya bisa kita lihat dengan mata wadak. Perubahan-perubahan terjadi nyata di hadapan mata. Bagaimana kebiasaan dan keyakinan pemain bola muslim (yang tentu saja datang dari pinggiran) ikut membentuk perwajahan pengelolaan persepakbolaan Inggris (pusat).

Di dunia sepakbola persoalan pusat dan pinggiran ini sebenarnya bukanlah hal baru. Tentu saja tidak harus dalam konteks semacam hubungan seperti pemain muslim dan kehidupan mereka di Liga Primer. Tekanannya adalah bahwa interaksi, dialog dan pertukaran ide selalu saja terjadi, dan tidak terlalu rumit untuk dirunut. 

Saya tidak perlu bercerita tentang hubungan Eropa dengan negara-negara Amerika Latin seperti Brasil dan Argentina, misalnya. (Walau banyak yang menganggap Brasil dan Argentina sudah menjadi pusat tersendiri, tetapi kita tahu betapa pemain dari kedua negara ini harus menyeberang dan menaklukkan Eropa kalau ingin dinggap menaklukkan dunia). Sudah banyak sekali pembahasan baik dalam bentuk buku, artikel ataupun film dokumenter mengenai pengaruh dan ide permainan yang datang dari kedua negara ini ke Eropa. Penghormatan akan individualitas, kemerdekaan berpikir (bermain) dan improvisasi menjadi mapan di Eropa, saya kira karena pengaruh yang sangat kuat dari kedua negara Amerika Latin ini.

Afrika belakangan menawarkan dimensi fisik dalam permainan sepakbola di Eropa. Klub-klub sepakbola Eropa menyerap bakat-bakat dari Afrika (ataupun keturunan Afrika di Eropa) dengan anugerah fisik di atas rata-rata. Tidak harus selalu tinggi besar, tetapi terkadang keliatan tubuh yang nyaris sempurna.

Perhatikan bagaimana konsep permainan dengan menggunakan keberadaan seorang destroyer permainan, buldozer, tukang pikul air ataupun istilah semacam menjadi populer, bukan karena sebelumnya tidak ada, tetapi seiring dengan semakin banyaknya pemain keturunan Afrika. Peran itu sekarang tidak harus dimainkan oleh mereka yang berasal dari Afrika, tapi pernah suatu ketika seperti menjadi hak eksklusif mereka. Evolusi juga terjadi dari para pemain Afrika ini, yang kalau dulu lebih sering berada di tengah, belakangan bisa di depan ataupun di jantung pertahanan.

Saya pernah membayangkan bahwa suatu saat, cepat atau lambat, Asia juga akan menyumbangkan argumentasi permainan untuk ditawarkan ke panggung persepakbolaan di pusat (Eropa) ini. Dan itu benar terjadi. Tetapi kalau saya pernah berharap Indonesia sebagai sebuah negara yang besar dan gila bola itu akan menjadi salah satu eksponennya, saya salah total.

Jepang, yang belajar bola jauh sesudah Indonesia, dan Korea yang rupanya mengambil obor dari Asia untuk dibawa ke pusat. Terus terang saya tidak tahu apa yang sebenarnya mereka tawarkan. Mungkin kemampuan untuk memahami kolektivitas permainan. Mungkin kemampuan menempatkan diri dalam sistem permainan apapun yang dimaui pelatih. Mungkin juga ketekunan, atau mungkin pembaca lebih bisa mengerti apa sebenarnya ditawarkan oleh pemain Asia yang di wakili kedua negara itu.

Saya hanya bisa dengan sangat sedih melihat kenyataan, Indonesia menjadi negara pinggiran yanginsignificant (tidak penting). Tidak mampu bersuara, tidak mampu menyumbang gagasan, tidak mampu menyumbang pemain. Padahal sejarah sepakbola di Indonesia ini begitu panjang. Teramat panjang
no image

Indonesia Dibanjiri Klub-Klub Dunia, Buat Apa?

EBOOK ISLAMI GRATIS DISINI
thumbnail
AFP/Bay Ismoyo
Akhir-akhir ini terjadi sebuah fenomena menarik; tim-tim besar dunia seakan lalu-lalang di Jakarta. Timnas Belanda, Arsenal, Liverpool, dan terakhir Chelsea silih berganti menyapa jutaan penggemar mereka masing-masing.


Para penggemar bola pada umumnya dan terutama fans berat negara dan klub-klub tersebut begitu antusias karena dulunya jarang-jarang kedatangan klub papan atas dunia. Wow, ada apa ini? Sebuah fenomena yang patut disyukuri tentunya.



Tapi kalau dicerna lebih mendalam, sebenarnya seberapa bermanfaatnya sihkedatangan tim-tim top dunia tersebut?



Kita mulai dari sisi positifnya terlebih dahulu. Pertama-tama kedatangan tim-tim tersebut tentu saja menggembirakan para penggemar mereka di tanah air yang bejibun jumlahnya. Itu sudah pasti.



Selain itu, adanya pemasukan untuk PSSI adalah hal yang positif. Sudah menjadi rahasia umum bahwa keuangan PSSI tidak sehat. Pemasukan ekstra seperti ini sedikit banyak tentu membantu roda organisasi PSSI, paling tidak bisa dipakai untuk menggaji karyawan dan staf.



Efek positif lainnya adalah adanya kesempatan bagi para pemain kita untuk "menimba ilmu" dan "menambah jam terbang". Tentu saja efek positif ini hanya berlaku apabila pemain Indonesia yang tampil mayoritas berusia muda. Apabila yang tampil adalah "wajah-wajah lama" tentu efek menimba ilmu dan efek menambah jam terbang menjadi not in effect, atau dalam bahasa Prancis "nggak ngefek". Buat apa?



Sudah semestinya kita meniru FAM (PSSI-nya Malaysia) yang kerap menurunkan timnas U-23 saat menghadapi klub-klub dunia. Toh penonton yang datang ke stadion dan pemirsa di hadapan kaca telivisi tidak akan kecewa karena mereka lebih tertarik menonton tim lawan. Karena itu alasan "pesanan sponsor" yang seakan-akan mengharuskan diturunkannya pemain-pemain tua yang memiliki nama tidaklah tepat.



Ketegasan PSSI serta pendekatan dan penjelasan yang tepat kepada sponsor menjadi kunci ngefek tidaknya kunjungan tim-tim besar ini secara teknis pembinaan. 



Tapi sampai disitu sajalah efek pembinaan dari datangnya tim-tim dunia tersebut. Tidak banyak. Tepatnya sedikit sekali unsur pembinaan yang bisa didaptkan Indonesia sebagai tuan rumah. Dan itupun KALAU yang dimainkan adalah pemain-pemain muda yang kedepannya akan terus membela merah-putih. Kalau yang main pemain tua atau pemain muda namun kedepannya tidak dipanggil kembali mubasirlah pengalaman yang didapat. Buat apa?



By the way, pertanyaan "buat apa?" di atas sengaja diulang.



Bukannya saya tidak mensyukuri kedatangan klub-klub dunia tersebut. Dari sisi entertainment, sebagai penggemar bola, tentu saya sangat mensyukuri.



Tapi saya khawatir. Terus terang saya khawatir publik dan pengurus sepakbola Indonesia terlena dengan banjirnya Jakarta dengan tim-tim kelas dunia. Saya kuatir event-event besar ini dipakai segelintir orang untuk mencari nama dan mengumandangkan dengan hebohnya bahwa kedatangan tim-tim besar dunia adalah bagian dari kerja keras mereka "membina" sepakbola Indonesia.



My friends, membina sepakbola bukanlah dengan mendatangkan tim-tim dunia. Bukan juga dengan mendatangkan Diego Maradona. Membina sepakbola Indonesia sejatinya dilakukan dengan cara-cara yang diam, tidak heboh, bahkan mungkin bisa disebut garing, seperti membuat akademi kepelatihan sehingga anak-anak di seluruh Indonesia bisa mendapatkan sesi-sesi latihan yang jauh lebih berkualitas dari sekarang dikarenakan pelatih-pelatih mereka terdidik --dan lebih daripada itu, terdidik secara berkualitas.



Ketegasan sikap, adil dalam bersikap, membina dalam bersikap dan memiliki visi dibelakang setiap sikap itulah pembina sepak bola yang sejati. Masyarakat bola Indonesia menginginkan dan mengidam-idamkan serta mengharap-harapkan (apalagi, ya?) pengurus sejati dan bukannya penguras.



Mari kita nikmati kedatangan tim-tim dunia sebagai entertainment yang layak untuk disyukuri. Karena timing kedatangan klub-klub papan atas EPL tersebut sangat tepat, yakni di saat pramusim, saya yakin gairah bertanding para penggawa di lapangan akan besar sehingga kualitas pertandingan akan tinggi dan mampu memuaskan kita semua.



Mari kita juga berharap bahwa pengalaman yang didapatkan para pemain Indonesia tidak mubazir, namun bisa digunakan di masa-masa mendatang di saat membela 'Merah-Putih'.



Yang terutama, harapan saya "pembinaan" sepakbola Indonesia tidak sampai di situ saja. Semoga proyek-proyek yang menjadi tulang punggung pembinaan berkualitas lekas bertransformasi dari alam kata-kata (istilah pribadi saya adalah "dunia bla-bla-bla") ke dunia nyata.



Kalau tidak, buat apa?



Salor.




===



* Penulis adalah pelatih, pengamat, pecinta sepakbola
* Akun twitter: @coachtimo
* Website: www.coachtimo.org



*Foto: Indonesia Selection saat dikalahkan Valencia 0-5 pada Agustus 2012 (AFP/Bay Ismoyo)
Sunday, June 30, 2013
Perbedaan Etika Maradona dan Cristiano Ronaldo di Indonesia

Perbedaan Etika Maradona dan Cristiano Ronaldo di Indonesia

EBOOK ISLAMI GRATIS DISINI
Pembaca yang budiman, Seminggu terakhir masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kedatangan dua insan sepak bola yang sangat mahsyur di penduduk dunia, skillnya tingkat dewa, dan kaya raya.

Ya, seperti judul diatas, Anda pasti sudah tahu sosok Maradona dan Cristianno Ronaldo (CR7). Keduanya adalah pemain yang dipuja oleh masyarakat dunia. Maradona, mantan pemain Napoli ini pernah meraih Piala Dunia bersama Argentina tahun 1986. Sedangkan prestasi terbaik CR7 sejauh ini adalah menjadi juara liga Champions 2008 bersama Manchester United dan menjadi runner up di Piala Eropa tahun 2004 di level timnas. Terakhir, juara Liga Spanyol bersama Real Madrid tahun 2012.

Ronaldo beberapa hari lalu menghadiri acara tanam Mangrove bersama Presiden SBY setelah didapuk menjadi Duta Mangrove. Acara tersebut berlangsung lancar. Kedatangan CR7 memberi spirit dan motivasi bagi rakyat Indonesia. Sikapnya yang santun dan bersahabat membuat masyarakat Indonesia simpati padanya. CR7 datang dalam rangka acara amal, bukan profit.

Giliran Maradona bertandang ke Indoensia. Tiba setelah perjalanan 20 jam dari Argentina ke Indonesia beberapa waktu lalu, didampingi beberapa asistennya Maradona tampak kelelahan dan tidak ingin diganggu. Bahkan ia kerap sedikit emosi ketika ada beberapa orang yang berusaha menyentuhnya. Satu keinginanMaradona saat itu mungkin, ingin segera tiba di hotel dan istirahat.

Kini beberapa media santer mengabarkan permintaan dan perilaku ‘aneh’ Maradona

Anak-anak yang datang bersama orang tuanya dan bersama kelompoknya di SSB (Sekolah Sepak Bola) sudah berkumpul bersiap menyambut legenda hidup tersebut. Maradona tiba di SUGBK utuk menyapa anak-anak yang menantinya dan bersiap untuk dilatih olehnya dalam coaching clinic.

Maradona dihadapan anak-anak tersebut pun memberi sambutan dan sedikit speech, yaitu untuk menjadi pemain berkelas tidak bisa diraih dengan cara instan. Penampilan Maradona ditutup dengan membagi-bagikan bola bertandatangan dirinya pada anak-anak tersebut. Setelah rangkaian acara yang berlangsung sekitar 12 menit tersebut, Maradona meninggalkan SUGBK untuk menuju hotel tempat ia beristirahat. Kesimpulannya? Agenda coaching clinic tersebut batal. Hanya sekilas sambutan dan bagi-bagi bola. Anaka-anak dan orang tua yang sudah bayar ratusan ribu bahkan jutaan kecewa. Bahkan awalnya dijanjikan ekspetasi bisa berfoto dengan Maradona. Salah satu pengelola SSB bahkan mengatakan agenda tersebut tidak ada manfaatnya untuk anak-anak yang ikut coaching clinic.

Maradona dijadwalkan mengunjungi bebebrapa tempat selain Jakarta, salah satunya adalah Medan. Namun, acara di Medan tersebut dipastikan batal. Menurut pihak penyelenggara, Medan tidak siap menyelenggarakan acara tersebut.

Permintaan ‘aneh’ Maradona dikutip dari bola.viva.co.id salah satunya adalah enggan ikut makan di gala dinner. Maksudnya disini adalah tidak mau ikut makan makanan yang disediakan di gala dinner, hanya mau minum kopi karena bukan jam makannya. Terkait air mineral (air putih) Maradona hanya mau minum dari merk air mineral tertentu saja, hanya satu merek. Untuk mengikuti gala dinner tersebut, peserta dikenai biaya sampai Rp 10 juta. Agenda Maradona di Indonesia antara lain, Coaching Clinic, Gala Dinner dan Seminar.

Untuk mendatangkan Maradona, pihak penyelenggara mengeluarkan biaya Rp 12 Miliar. Tentu angka tersebut adalah tarif yang dipatok oleh pihak manajemen Maradona sendiri.

Mari kita lihat ketika Cristiano Ronaldo datang ke Indonesia.

Datang dalam rangka gerakan menanam Mangrove dan kesadaran akan pentingnya Mangrove, CR7 datang dengan gaya sederhana, menebar senyum persahabatan, tulus menyapa semua penggemarnya.

Bersedianya Ronaldo menjadi duta mangrove tanpa paksaan apalagi iming-iming uang. Ronaldo tidak dibayar sepeserpun untuk acara tersebut di Indonesia.

Ketertarikan Ronaldo pada mangrove dimulai ketika ia mengetahui sosok Martunis, anak kecil dari Aceh yang selamat dari tsunami karena tersangkut dan berpegangan pada Mangrove. Martunis, anak asal Aceh tersebut selamat setelah 21 hari terombang-ambing, tanpa makan. Yang menarik Martunis saat itu menggunakan kaus timnas Portugal dan berita tersebut diliput oleh media internasional. Darisana Ronaldo mengenal Martunis, mengundangnya ke Portugal bersama timnas Portugal, dan menjadikannya anak angkat dengan membiayai biaya pendidikan Martunis.

Selama di Indonesia Ronaldo jauh dari permintaan yang aneh-aneh. Menjalankan perannya dengan wajah ceria dan sepenuh hati. Ronaldo jauh dari pemberitaan negatif tentang gaya hidup dan pola konsumsi yang tidak sehat.

Dibalik kemegahan dirinya dan kemelimpahan hartanya, Ronaldo memiliki hati emas. Ia sangat ramah pada fans, bahkan sering memberi kaus jerseynya pada penonton setelah pertandingan. Ia dikabarkan sering menyumbang sebagian hartanya untuk kegiatan kemanusiaan.

Darisana pembaca yang budiman bisa melihat bagaimana etika dan perilaku dua superstar tersebut ketika berkunjung ke Indonesia. Mari serap yang baik-baiknya agar menjadi inspirasi untuk kita semua.
Ahmad Fathanah dan Indahnya Androgy-nya Ayu Azhari: Telaah Psikologi

Ahmad Fathanah dan Indahnya Androgy-nya Ayu Azhari: Telaah Psikologi

EBOOK ISLAMI GRATIS DISINI
Ayu Azhari, Vitali Sesha dan Sefti Sanustika muncul dengan saling serang di infotainment. Wawancara televisi yang menunjukkan pembelaan diri dan pembusukan lawannya sesungguhnya membuka kedok diri mereka. Sesungguhnya Ahmad Fathanah adalah sosok manusia kalah - atau pura-pura kalah dalam rangka strategi melepaskan diri dengan mengalihkan kasus bahasan dari korupsi ke sekedar infotainment dan perseteruan antar perempuan. Lalu kenapa yang muncul sosok Sefti Sanustika bukan istri-istri yang lainnya selain 4 yang lain?

Dalam sisi psikologi jender, Ahmad Fathanah yang mendelegasikan kasus busuk urusan perempuan dengan dicuci oleh kesetiaan istri - dalam gambaran dan kesan saja - adalah sosok lelaki lemah yang tak bertanggung jawab. Sikap kekalahan Ahmad Fathanah diwujudkan dengan mengawini banyak perempuan. Ahmad Fathanah melakukan pencarian dirinya. Sikap dan gaya tegar yang dimunculkan di permukaan gagal memberikan kepuasan jiwa baginya. Yang terjadi adalah kegalauan tingkat dewa.

Empat istri lainnya Ahmad Fathanah diambil dari kalangan pengajian - yang berwujud kepasrahan total perempuan pada penghambaan terhadap Ahmad Fathanah. Bagi Ahmad Fathanah hal ini tidak memuaskan jiwanya. Maka dicarinya perempuan model Vitali Sesha, Sefti Sanustika, Maharany Suciono, dan kawan-kawan sealiran dengan gejolak jiwa. Semua itu tidaklah memberikan kebahagiaan tingkat dewa yang diinginkan oleh Ahmad Fathanah yang bergelimang uang hasil pencucian uang. Apa dan seperti apa perempuan yang diinginkan oleh Ahmad Fathanah?

Ahmad Fathanah adalah gambaran metamorfosisnya para OKB dari manusia pas-pasan Senin-Kamis di kampus-kampus yang tiba-tiba menjadi golongan sedikit kelas menengah langsung berpesta menikah banyak-banyak. Poligami yang menjadi trend di kalangan para kader dan elite partai-partai adalah secara psikologis adalah balas dendam masa lalu - ketika dimarjinalkan oleh Soeharto secara sosial dan ekonomi.

Ahmad Fathanah sungguh fenomenal muncul dan berani menunjukkan disorientasi psikologi terhadap keadaan sosio-religiusnya dengan tampil frontal dan gemerlap - sementara yang lain tiarap malu-malu.

Tampilnya Sefti, Dewi, Lita (saya samarkan) dan beberapa teman Maharany Suciono masih saja belum muncul di KPK menggambarkan pencarian jiwa Ahmad Fathanah terhadap perempuan - harapan publik melihat semakin banyak perempuan muncul ke permukaan dengan pengakuan membantu pencucian uang dan KPK menetapkan para perempuan ini sebagai persangka pencucian uang. Namun ada satu perempuan yang paling menarik. Ayu Azhari. Selain Ayu Azhari di antara semua perempuan Ahmad Fathanah, mereka adalah KW3-nya Ayu Azhari.

Bahkan Ahmad Fathanah kalah jauh dibandingkan dengan Eyang Subur dalam memilih perempuan. Eyang Subur 100% mendapatkan dengan cerdas perempuan yang digambarkan oleh Ayu Azhari. Eyang Subur mampu menampilkan istri-istrinya - yang mentalnya kuat - ke depan publik dengan elegan bahkan berseragam segala. Sementara istri-istri dan teman dekat pacar Ahmad Fathanah - yang tidak ada hubungannya dengan PKS namun sohib dan operator lapangan kepentingan bisnis elite PKS seperti mengatur pertemuan di Medan dan banyak tempat -tidak berani muncul kecuali KW-2nya Ayu Azhari bernama Sefti Sanustika.

Ayu Azhari adalah sosok androgen sejati. Dalam diri seorang Androgen seperti Ayu Azhari, Lady Diana, Nefertiti, Cleopatra, Benazir Butto, Madonna, Margaret Tatcher, Indira Gandhi, Ratu Shima, Golda Meir, Ratu Sheba, Mary Robinson, Jackie Kennedy, dan tentu saja Agnes Monica, tampak kekuatan dan daya tarik yang memabukkan banyak kalangan baik perempuan maupun laki-laki.

Androgen laki-laki muncul dalam diri orang seperti David Beckham, Julio Iglesias, John F Kennedy, Soekarno, Tan Malaka, Chairil Anwar, Bung Hatta, Vladimir Putin, Syeikh Siti Jennar, Abdul Qadir Aljaelani, Buya Hamka, KH Ahmad Dahlan, KH Wahid Hasyim, Sudono Salim, Anies Baswedan, Komaruddin Hidayat, Mahfud MD, Dahlan Iskan, Joko Widodo dan bahkan Eyang Subur.

Para Androgen ini secara mental mampu menempatkan diri dan memerlakukan diri dan orang lain antara perempuan dan lelaki bahkan tanpa jender. Bukan berarti mereka adalah bencong atau lesbi, namun justru mereka adalah para manusia yang mampu menempatkan dan melihat diri dan orang lain baik sejenis maupun lawan jenis dari sisi sesuai dengan perspektif diri yang dipandang - sekaligus yang memandang.

Oleh sebab itu, Ahmad Fathanah benar-benar kesengsem dengan Ayu Azhari karena karakter dan jiwa Ayu Azhari yang androgen. Hanya pasangan yang memiliki jiwa androgen yang akan mampu memuaskan seorang androgen. Ayu Azhari selama ini mengarungi biduk kehidupan dalam pencarian pasangan androgen; dan Ahmad Fathanah tidak memiliki kualitas apapun - meskipun dipuja dan dibanggakan oleh PKS sebagai mesin uang - selain sebagai petualang tanpa jiwa yang gemerlap dan indah seperti yang dimiiki oleh Ayu Azhari. Ahmad Fathanah jelas kalah telak dan tidak mendapatkan Ayu Azhari - atau Ayu malu mengakui ditaklukkan Ahmad Fathanah yang bukan Androgen. Ahmad Fathanah jelas kalah telak dengan Eyang Subur.

Many androgynes identify as being mentally between woman and man, or as entirely genderless. They may identify as “non-gendered”, “gender-neutral”, “agendered”, “between genders”, “genderqueer”, “multigendered”, “intergendered”, “pangender” or “gender fluid”. Kalau nggak jelas soal androgyny silakan konsultasi sama saya, Eyang Subur dan Mbah Google. Dan, ingat tidak semua hal di Wikipedia dan Google bener.

Salam bahagia ala saya. Be An Androgen and Be Happy!
Thursday, January 24, 2013
Dampak Psikologis Bagi Korban Pemerkosaan

Dampak Psikologis Bagi Korban Pemerkosaan

EBOOK ISLAMI GRATIS DISINI
Baru-baru ini, dunia tercengang dengan kasus pemerkosaan seorang wanita India. Korban akhirnya meninggal dunia setelah mengalami kekerasan fisik. Kasus pemerkosaan ini tak hanya ditemukan di India, melainkan hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Korbannya pun tak mengenal usia. Kasus terakhir yang ramai diperbincangkan adalah RI, seorang bocah perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar. RI yang diduga korban pemerkosaan tersebut juga meninggal dunia.

Berkebalikan dengan yang dikatakan oleh calon hakim agung, Daming Sunusi, bahwa pelaku dan korban perkosaan sama-sama menikmati, ternyata korban pemerkosaan yang masih hidup harus menanggung penderitaan, utamanya masalah psikologis. Berikut adalah dampak psikologis yang dialami para korban pemerkosaan seperti dijelaskan Psikolog Alissa Wahid.

1. Menyalahkan diri sendiri
Self blaming atau menyalahkan diri sendiri merupakan cara yang dilakukan seseorang ketika menghadapi sebuah masalah, dengan menyalahkan bahkan menghukum diri sendiri. Inilah yang kemudian juga menjadi pemicu kemungkinan angka bunuh diri meningkat.

2. Merasa 'rusak'
Alissa mengungkapkan bahwa korban pemerkosaan mengalami penurunan rasa percaya diri. "Tak jarang korban pemerkosaan merasa tak memiliki rasa percaya diri karena merasa dirinya seperti barang rusak," ujarnya. Rasa ini berkaitan dengan masa depan korban, khususnya wanita yang lebih memikirkan pasangan hidup. Ketakutan tidak ada pria yang menginginkannya lagi karena statusnya sebagai korban pemerkosaan.

3. Menarik diri dari lingkungan
Perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, seperti menarik diri dari lingkungan, pendiam, dapat menjadi tanda yang terlihat secara kasat mata.
"Korban umumnya merasa takut untuk mengatakan tentang kejadian (pemerkosaan) yang sebenarnya, kemudian muncul sebuah gejala depresi ini," kata Alissa.

Tak hanya itu, mereka juga takut dihakimi oleh orang-orang di sekitarnya yang akhirnya menimbulkan trauma. Perlu Dilakukan Guna mencegah terjadinya dampak yang tak diinginkan tersebut, sebaiknya orangtua atau orang terdekat korban melakukan hal berikut ini:

- Ketika korban mengalami perubahan perilaku, coba tanyakan perlahan dengan menggali informasi dari dalam dirinya. Jika tak berhasil, mintalah pertolongan pada orang terdekat yang dipercaya oleh anak.

- Saat dalam kondisi ini, korban pada dasarnya membutuhkan dukungan atau dorongan. Jangan menyalahkan atau berbicara dengan nada tinggi, karena dapat menimbulkan efek buruk pada korban. (eh)
Monday, January 21, 2013
Asal Mula Nama Warkop DKI

Asal Mula Nama Warkop DKI


Mungkin tak banyak yang tahu asal-mula grup lawak ini memilih Warung Kopi sebagai identitas mereka.

Sebagai mahasiswa yang melek dengan keadaan sosial-politik, Indro dan kawan-kawan sadar betul bahwa hanya ada satu tempat di negeri ini yang menjunjung arti demokrasi sebenarnya. Tempat yang dimaksud adalah warung kopi.

"Kedewasaan demokrasi yang baik hanya ada di warung kopi," tutur Indro. "Di sana, orang bebas bicara, bebas membantah, bebas tertawa, tanpa berantem. Karena itulah nama Warung Kopi kami pilih untuk grup ini."

Dalam setiap performanya, Warkop selalu melontarkan kritik pedas terhadap pemerintah sebagai kontrol sosial. Padahal, di era itu, rakyat Indonesia dikukung oleh pemerintahan yang represif.

Namun, bagi Warkop, yang mereka lakukan adalah salah satu tanggung jawab sebagai rakyat. Dan karena itulah, mereka berani mengungkapkan kritik terhadap pemerintah, walau pernah pula berakhir di kantor polisi.

"Tapi, kami tetap berani menyuarakan suara rakyat karena memang itulah tujuan kami. Kami konsisten menempatkan diri sebagai rakyat," lanjut Indro.

"Dan kami lebih baik memiliki arti di mata masyarakat ketimbang menjadi kaya. Ada dua jenis kepuasan di dunia ini, yaitu kepuasan batin dan materi. Mana yang prioritas? Warkop lebih mengutamakan kepuasan batin. Ada kepuasan batin tersendiri ketika kami mampu mewakili suara rakyat."

Memiliki arti di mata masyarakat adalah salah satu nilai yang dijunjung tinggi oleh Warkop hingga detik ini.

Bahkan, ketika dunia perfilman memandang karya-karya Warkop dengan sebelah mata, Indro dan kawan-kawannya tidak peduli.

Menanggapi hal tersebut, menurut Indro, kedua rekannya pernah mengatakan hal yang sama. "Tak usah pedulikan mereka yang tidak menganggap Warkop. Yang harus kita pedulikan adalah jutaan masyarakat yang menonton Warkop," kenang Indro.

"Mas Dono dan Mas Kasino selalu mengatakan bahwa kita harus mendahulukan kepentingan bangsa dibandingkan kepentingan pribadi."

Hingga saat ini, prinsip tersebut selalu dipeluk Indro, bahkan di luar dunia Warkop sekalipun. (Gaiz)

Sumber: Majalah Hello! Indonesia April 2011
Friday, January 18, 2013
Turis Jerman "Nikmati" Banjir di Thamrin

Turis Jerman "Nikmati" Banjir di Thamrin


Banjir besar yang melanda Jakarta pada Kamis 17 Januari 2013 memunculkan banyak cerita, dari yang sedih sampai lucu. Cerita lucu misalnya, terlihat dari kelakuan dua turis asing dari Jerman dan Swiss.

Alih-alih stres dengan banjir yang melanda Ibu Kota ini, Tim Lehman yang asal Jerman justru menghabiskan sorenya dengan bermain air di banjir yang menggenangi Jalan MH Thamrin. Lehman tidur-tiduran di atas pelampung, sementara temannya, Thomas Hauser yang dari Swiss, menariknya dengan tali. 

Mereka pun terlihat menebar, menikmati udara sore Jakarta yang meski tak hujan lagi namun masih mendung. 

Bukan Lehman dan Hauser yang "berwisata" banjir. Hendra, seorang warga yang tinggal di Permata Hijau, mengaku sengaja bolos bekerja sejak pagi. Alih-alih bertahan di rumah, Hendra menggenjot sepedanya ke kawasan Bundaran Hotel Indonesia.

Dengan mengenakan setelan jas hujan, helm dan peralatan dokumentasi, pria asal Yogyakarta itu mengabadikan momen banjir besar yang menimpa urat nadi Jakarta itu. Hendra mengaku, awalnya hendak bersepeda ke Jatinegara, melihat rumah temannya yang terkena banjir.

"Ternyata di HI parah juga karena tanggulnya jebol, sekalian saja saya abadikan hehe