Thursday, January 24, 2013

Dampak Psikologis Bagi Korban Pemerkosaan


Baru-baru ini, dunia tercengang dengan kasus pemerkosaan seorang wanita India. Korban akhirnya meninggal dunia setelah mengalami kekerasan fisik. Kasus pemerkosaan ini tak hanya ditemukan di India, melainkan hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Korbannya pun tak mengenal usia. Kasus terakhir yang ramai diperbincangkan adalah RI, seorang bocah perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar. RI yang diduga korban pemerkosaan tersebut juga meninggal dunia.

Berkebalikan dengan yang dikatakan oleh calon hakim agung, Daming Sunusi, bahwa pelaku dan korban perkosaan sama-sama menikmati, ternyata korban pemerkosaan yang masih hidup harus menanggung penderitaan, utamanya masalah psikologis. Berikut adalah dampak psikologis yang dialami para korban pemerkosaan seperti dijelaskan Psikolog Alissa Wahid.

1. Menyalahkan diri sendiri
Self blaming atau menyalahkan diri sendiri merupakan cara yang dilakukan seseorang ketika menghadapi sebuah masalah, dengan menyalahkan bahkan menghukum diri sendiri. Inilah yang kemudian juga menjadi pemicu kemungkinan angka bunuh diri meningkat.

2. Merasa 'rusak'
Alissa mengungkapkan bahwa korban pemerkosaan mengalami penurunan rasa percaya diri. "Tak jarang korban pemerkosaan merasa tak memiliki rasa percaya diri karena merasa dirinya seperti barang rusak," ujarnya. Rasa ini berkaitan dengan masa depan korban, khususnya wanita yang lebih memikirkan pasangan hidup. Ketakutan tidak ada pria yang menginginkannya lagi karena statusnya sebagai korban pemerkosaan.

3. Menarik diri dari lingkungan
Perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, seperti menarik diri dari lingkungan, pendiam, dapat menjadi tanda yang terlihat secara kasat mata.
"Korban umumnya merasa takut untuk mengatakan tentang kejadian (pemerkosaan) yang sebenarnya, kemudian muncul sebuah gejala depresi ini," kata Alissa.

Tak hanya itu, mereka juga takut dihakimi oleh orang-orang di sekitarnya yang akhirnya menimbulkan trauma. Perlu Dilakukan Guna mencegah terjadinya dampak yang tak diinginkan tersebut, sebaiknya orangtua atau orang terdekat korban melakukan hal berikut ini:

- Ketika korban mengalami perubahan perilaku, coba tanyakan perlahan dengan menggali informasi dari dalam dirinya. Jika tak berhasil, mintalah pertolongan pada orang terdekat yang dipercaya oleh anak.

- Saat dalam kondisi ini, korban pada dasarnya membutuhkan dukungan atau dorongan. Jangan menyalahkan atau berbicara dengan nada tinggi, karena dapat menimbulkan efek buruk pada korban. (eh)
»»  LAGI CHOY...

Monday, January 21, 2013

Asal Mula Nama Warkop DKI


Mungkin tak banyak yang tahu asal-mula grup lawak ini memilih Warung Kopi sebagai identitas mereka.

Sebagai mahasiswa yang melek dengan keadaan sosial-politik, Indro dan kawan-kawan sadar betul bahwa hanya ada satu tempat di negeri ini yang menjunjung arti demokrasi sebenarnya. Tempat yang dimaksud adalah warung kopi.

"Kedewasaan demokrasi yang baik hanya ada di warung kopi," tutur Indro. "Di sana, orang bebas bicara, bebas membantah, bebas tertawa, tanpa berantem. Karena itulah nama Warung Kopi kami pilih untuk grup ini."

Dalam setiap performanya, Warkop selalu melontarkan kritik pedas terhadap pemerintah sebagai kontrol sosial. Padahal, di era itu, rakyat Indonesia dikukung oleh pemerintahan yang represif.

Namun, bagi Warkop, yang mereka lakukan adalah salah satu tanggung jawab sebagai rakyat. Dan karena itulah, mereka berani mengungkapkan kritik terhadap pemerintah, walau pernah pula berakhir di kantor polisi.

"Tapi, kami tetap berani menyuarakan suara rakyat karena memang itulah tujuan kami. Kami konsisten menempatkan diri sebagai rakyat," lanjut Indro.

"Dan kami lebih baik memiliki arti di mata masyarakat ketimbang menjadi kaya. Ada dua jenis kepuasan di dunia ini, yaitu kepuasan batin dan materi. Mana yang prioritas? Warkop lebih mengutamakan kepuasan batin. Ada kepuasan batin tersendiri ketika kami mampu mewakili suara rakyat."

Memiliki arti di mata masyarakat adalah salah satu nilai yang dijunjung tinggi oleh Warkop hingga detik ini.

Bahkan, ketika dunia perfilman memandang karya-karya Warkop dengan sebelah mata, Indro dan kawan-kawannya tidak peduli.

Menanggapi hal tersebut, menurut Indro, kedua rekannya pernah mengatakan hal yang sama. "Tak usah pedulikan mereka yang tidak menganggap Warkop. Yang harus kita pedulikan adalah jutaan masyarakat yang menonton Warkop," kenang Indro.

"Mas Dono dan Mas Kasino selalu mengatakan bahwa kita harus mendahulukan kepentingan bangsa dibandingkan kepentingan pribadi."

Hingga saat ini, prinsip tersebut selalu dipeluk Indro, bahkan di luar dunia Warkop sekalipun. (Gaiz)

Sumber: Majalah Hello! Indonesia April 2011
»»  LAGI CHOY...

Friday, January 18, 2013

Turis Jerman "Nikmati" Banjir di Thamrin


Banjir besar yang melanda Jakarta pada Kamis 17 Januari 2013 memunculkan banyak cerita, dari yang sedih sampai lucu. Cerita lucu misalnya, terlihat dari kelakuan dua turis asing dari Jerman dan Swiss.

Alih-alih stres dengan banjir yang melanda Ibu Kota ini, Tim Lehman yang asal Jerman justru menghabiskan sorenya dengan bermain air di banjir yang menggenangi Jalan MH Thamrin. Lehman tidur-tiduran di atas pelampung, sementara temannya, Thomas Hauser yang dari Swiss, menariknya dengan tali. 

Mereka pun terlihat menebar, menikmati udara sore Jakarta yang meski tak hujan lagi namun masih mendung. 

Bukan Lehman dan Hauser yang "berwisata" banjir. Hendra, seorang warga yang tinggal di Permata Hijau, mengaku sengaja bolos bekerja sejak pagi. Alih-alih bertahan di rumah, Hendra menggenjot sepedanya ke kawasan Bundaran Hotel Indonesia.

Dengan mengenakan setelan jas hujan, helm dan peralatan dokumentasi, pria asal Yogyakarta itu mengabadikan momen banjir besar yang menimpa urat nadi Jakarta itu. Hendra mengaku, awalnya hendak bersepeda ke Jatinegara, melihat rumah temannya yang terkena banjir.

"Ternyata di HI parah juga karena tanggulnya jebol, sekalian saja saya abadikan hehe
»»  LAGI CHOY...

Tuesday, December 4, 2012

3 Pernyataan Kontroversial Bupati Garut Aceng


1. Nidurin Artis Tak Semahal Ini
Aceng menyatakan kasus Fany yang dinikahinya bulan Juli 2012 telah diselesaikan secara kekeluargaan. 

"Saya sudah keluar uang hampir Rp 250 juta, hanya nidurin satu malam. Nidurin artis saja tidak harga segitu," kata Aceng saat ditanya pernikahannya menjadi kontroversi.

Aceng mengakui memberikan mas kawin pada Fany senilai Rp 2 juta dan uang tunai Rp 100 juta sebagai tanda penghormatannya pada perempuan. 

"Kata dia tidak menyangka untuk mendapatkan itu, karena dari keluarga yang sangat tidak punya. Sangat bersyukurlah. Saya beli HP yang sama dengan dia, saya beli pakaian, sampai saya bilang ke dia, kita nanti habis nikah itu umrah. Atau kita nikah sambil umrah. Itu harapan saya," jelas dia.

2. Perawan Itu Kalau Dipakai Lalu Berdarah
Aceng merasakan bahwa Fanny sudah tidak perawan, karena itu dirinya merasa dibohongi. Menurut Aceng, sebelum menikah, Fanny mengaku perawan.

"Sumpah demi Allah, demi Rasulullah. Saya kan duda, pernah punya istri. Terlepas yang namanya
perawan itu dipakai lalu berdarah, terlepas dengan cara yang baik, saya tidak tahu itu. Tapi ini, dari ekspresi seperti ia orang yang sudah terbiasa. Dari kelemahan yang ada akhirnya sama sekali tidak ada rasa di saya," kata Aceng.

3. Pas Saya Beli Ternyata Tidak Sesuai Speknya
Aceng mengatakan seusai menikah, apa yang diharapkannya dari Fanny tidak sesuai. Dia kemudian mengembalikan ke hukum agama, dan membatalkan pernikahan itu.

"Itu namanya batal nikah. Kenapa? Karena nikah itu kan perdata, perikatan, akad. Jadi kalau dianalogikan, tidak ada bedanya dengan jual beli. (Janjinya), “Wah ini barang dipakainya enak, performanya banyak orang suka.” Tapi pas saya beli ternyata “loh ininya kurang, tidak sesuai dengan speknya”. Saya dari malam pertama saja, sudah minta ampun, sudah tidak kuat," kata Aceng.
»»  LAGI CHOY...

Saturday, December 1, 2012

ALASAN BUPATI GARUT ACENG HM FIKRI NIKAH CERAI DENGAN FANI


KRONOLOGI ALASAN BUPATI GARUT ACENG HM FIKRI NIKAH CERAI DENGAN FANI OKTORA 2012. Perkawinan kilat Bupati Garut Aceng HM Fikri terus menuai protes. Pada Ahad 25 November 2012 warga Garut turun ke jalan memprotes prilaku sang bupati Garut.

Perempuan Garut merasa kehormatannya dihina atas perbuatan sang bupati menikahi seorang gadis berusia 18 tahun hanya selama empat hari. Ia menceraikannya melalui sebuah pesan singkat.

Paguyuban perempuan Garut turun ke jalan untuk mengecam segala tindakan yang memarginalkan perempuan. Mereka mengecam Bupati Garut Aceng HM Fikri yang dinilai melecehkan perempuan. Para wanita melakukan aksi simpati dan mengajak para pengguna jalan untuk menolak eksploitasi yang merugikan kaum hawa.

Aksi paguyuban perempuan Garut ini merupakan salah satu bentuk protes besar atas berbagai tindakan kekerasan dan eksplotasi yang terjadi di Kabupaten Garut. Seperti yang dilakukan Bupati Aceng terhadap Fani Oktora, gadis belia yang dinikahi hanya dalam waktu empat hari.

Kontroversi pernikahan ini berawal dari pengakuan Fani yang telah dinikahi Aceng yang sudah beristri. Selang empat hari setelah menikah, sang bupati mentalaknya hanya lewat sebuah pesan singkat.

Tidak terima perlakuan sang bupati, Fani yang berasal dari keluarga besar pesantren menuntut permintaan maaf. Saat itu, Fani dan keluarga besar Pondok Pesantren al-Fadilah mengizinkan pernikahan ini karena Aceng mengaku telah bercerai dengan istri pertamanya.

Namun, Bupati Garut menepis hubungan status pernikahannya dengan Fani. Ia mengaku persoalan ini telah diselesaikan lima bulan lalu. Aceng mengaku memang kerap diisukan memiliki istri lagi yang ditampiknya dengan keras.

Pernikahan tersebut diputuskan Aceng dengan alasan bahwa Fani sudah tidak perawan dan menderita sakit polio. Apa yang dilakukan bupati ini mengundang reaksi dari berbagai kalangan, baik warga maupun aktivis perempuan yang menyayangkan tindakan Aceng. Mereka menilai, meskipun menikah adalah hak asasi seseorang namun apa yang dilakukan Aceng adalah contoh yang kurang baik dan tidak mencerminkan seorang pemimpin.

Akhirnya Bupati Garut Aceng HM Fikri angkat bicara mengenai pernikahan dan perceraiannya dengan Fani Oktora (18). Ia tidak membantah telah menikah dan menceraikan Fani. Berikut penjelasan lengkapnya.

"Saya tidak mau menanggapi. Ini ranah pribadi. Apalagi ini sudah diselesaikan 5 bulan lalu," kata Aceng kepada wartawan di Pendopo Pemkab Garut, Rabu 28 November 2012 petang.

Aceng enggan menjelaskan secara detail proses pernikahan dan perceraiannya dengan Fani. Ia juga menjawab diplomatis saat ditanya seputar alasan menikahi dan menceraikan gadis berusia 18 tahun tersebut.

"Saya lebih baik diam. Yang penting, saya masih bisa berdinas seperti biasa, menghadiri berbagai kegiatan dan mengunjungi masyarakat," kata Aceng.

Mantan pasangan Dicky Chandra ini mengaku terganggu dengan pemberitaan mengenai dirinya dan menduga hal itu dikembangkan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak menyukainya. Meski demikian, ia tidak akan menanggapi dan bertugas seperti biasa. 

"Yang jelas, kalau ada perceraian, pasti ada pernikahan. Saya menceraikan secara lisan, pakai kata-kata halus. SMS hanya penegasan saja," katanya tanpa merinci kata-kata yang dimaksud. 

Aceng menikahi Fani pada pertengahan Juli lalu. Dia dikenalkan oleh seorang ustaz sebuah pesantren di dekat rumahnya. Saat menikah, sang bupati mengaku duda dan mencari istri untuk menemaninya umroh.
»»  LAGI CHOY...

Thursday, November 29, 2012

Rhoma Irama dan Sarah Palin


Melihat Rhoma Irama yang sedang getol getolnya nyalon  di Indonesia, sontak mengingatkan saya ke satu figur yang ’serupa tapi tak sama ‘ nun jauh di sebuah belahan bumi yang lain.

Adalah Sarah Palin, seorang ibu cantik mantan Gubernur Alaska dari Partai Republik yang sempat menggegerkan kancah politik di Amerika Serikat karena pencalonannya sebagai Wakil Presiden bersama dengan John Mc. Cain di tahun 2008 yang telah silam. Saat itu adalah sebuah momen historis di Amerika, dimana pasangan Barrack Obama dan Joe Biden berhasil mengalahkan sebuah pandangan subjektif dan yang terlebih adalah isu rasisme yang dilontarkan kubu John Mc.Cain dan Sarah Palin terhadap Barrack Obama sendiri.
Sarah Palin - pic taken from libertarianrepublican.net
Sarah Palin hanyalah seorang ‘redneck’ (sebutan untuk orang ‘udik’) dari Alaska yang dipilih oleh Tim Sukses John Mc Cain pada saat itu, karena saat itu tim sukses Partai Republik berpikir bahwa dia lah figur yang tepat. Seorang ibu rumah tangga yang juga menjabat sebagai Gubernur , punya nilai nilai ‘luhur dan keluarga’ khas Amerika, yang tentu mewakili sebuah pandangan politik dari Partai Republik sendiri.

Yang tidak mereka banyak tahu sebelumnya adalah, Sarah Palin memang benar benar seseorang yang bisa dikatakan ‘kurang pintar ‘ dan mempunyai emosi yang labil. Pada satu persiapan wawancara, bahkan Tim Sukses Partai Republik sendiri harus terkejut untuk sebuah kenyataaan bahwa memang Sarah Palin sama sekali tidak menguasai masalah perekonomian , politik , sosial dan terutama perihal kebijakan Amerika dengan negara negara lainnya.  Di satu kesempatan Sarah Palin bahkan salah menyebutkan bahwa peristiwa 9-11 yang cukup meruntuhkan Amerika itu didalangi oleh mendiang Saddam Husein.

Bukan karena  sebelumnya dia mengantongi  sebuah  informasi intel kelas kakap atau hal yang lainnya, tapi kenyataannya lebih simpel dari itu : Sarah Palin tidak mengetahui apa bedanya antara Afghanistan dan Irak !

Kesalahan demi kesalahan dilakukan Sarah Palin dalam kesempatannya untuk bertatap muka secara langsung untuk menjelaskan apa visi dan misinya terhadap rakyat di Amerika.  Namun, di satu sisi Sarah Palin memang menggambarkan sebagian dari rakyat di Amerika sendiri.  Dan sayangnya, isi kampanye dari Sarah Palin memang sarat dengan sebuah nilai ‘kekeluargaan luhur’ khas Amerika yang menjadi suatu pembenaran atas diangkatnya isu rasialis melawan Barrack Obama.

“Angkat Presiden dari Kita Sendiri, Bukan dari “Mereka” !” . Itu adalah isu atau poin yang selalu digaungkan oleh seorang Sarah Palin untuk menyerang Obama.  Saat itu, Amerika memang sangat tersakiti dengan adanya insiden 9/11.  Dan untuk itu mereka mengutuk keras terorisme. Yang jadi masalah adalah, pada umumnya sebagian dari rakyat di Amerika pun tidak tahu menahu siapa musuh mereka sebenarnya. Yang mereka tahu adalah semua negara di “Middle East” adalah teroris. Bahwa muslim adalah teroris. Akhir kata.

Dan Barrack Obama yang diindikasikan adalah seorang liberal dan juga seorang muslim, tentu mewakili pandangan mereka disini.  Tidak dapat dibiarkan, sebuah calon yang sayap kiri, apalagi dia adalah seorang muslim.  Dan isu isu itulah yang selalu diangkat Sarah Palin dalam kampanye-nya pada saat itu.

John Mc. Cain sendiri sejatinya tidak setuju dengan sikap Sarah Palin. Dan diapun melihat kesalahan demi kesalahan yang dilakukan oleh Sarah Palin pada masa kampanye-nya.  Mc.Cain pun mengeluh bahwa ‘kampanye hitam’ yang ingin menjatuhkan Barrack Obama dari sisi warna kulit atau ras bukanlah sesuatu yang diinginkannya. Perbedaan pandangannya dengan Barrack Obama adalah seputar kebijakan dan program. Bukan isu rasialismenya.

Namun sudah terlambat. Kampanye partai Republik yang mengusung kedua calon tersebut, John Mc.Cain dan Sarah Palin sudah kadung di cap sarat dengan isu seputar rasialisme. Bagi yang merasa konservatif dengan cara atau pola pikir yang tertutup , mereka dianggap mewakili diri mereka. Dan itu cukup untuk memukul pasangan Barrrack Obama dan Joe Biden pada saat itu dibeberapa negara bagian di Amerika Serikat. Tapi tidak pada total suara.

Barrack Obama sendiri pun tertolong atas isu rasialis tersebut. Tentu, mayoritas pemilih afrikan amerikan sudah pasti memilihnya. Yang merasa simpati terhadap ketidak adilan yang dirasakan oleh ummat muslim di Amerika pun juga mendukungnya. Dan yang liberal penjunjung kebebasan dan persamaan? Sudah pasti kantong suara mereka akan berpihak kepada Obama.

Rhoma Irama. Dari manapun sisi kita melihatnya, ada sebuah persamaan disana. Wawancaranya dengan Najwa Sihab yang lalu berhasil menunjukkan kapabilitas Bang Haji sendiri seputar pengetahuan dirinya dalam masalah ekonomi, politik ,sosial dan yang lainnya.  Sejatinya memang hanya tahu sedikit, namun itu tidaklah penting.

Yang terpenting bagi dirinya adalah mengangkat ‘nilai luhur keagamaan’.  Isu SARA, adalah kekuatan Rhoma Irama disana.

Dan jangan salah, masih banyak diantara kita yang menganggap bahwa hal itu adalah penting adanya. Kapabilitas bukan suatu yang penting. Yang penting adalah sosok.
»»  LAGI CHOY...

Wednesday, November 28, 2012

Kisah dan Biodata Andik Vermansyah



Andik Vermansyah - Jika saya ada dibangku pelatih Arsenal sekarang (ganti'n Wenger sementara), maka dengan sangat bangga saya akan meminang dan memilih Andik Vermansyah sebagai pemain untuk bermain di Arsenal. Itu seandainya saja, boleh kan berandai-andai walaupun mungkin sang prof Arsene Wenger belum mencium bakat seorang Andik Vermansyah. Tapi beberapa waktu lalu katanya Andik Vermansyah diminati oleh klub sepak bola asal Portugal yaitu Benfica. 

Walaupun Andik Vermansyah mengaku sangat mendambakan Real Madrid sebagai klub idamannya karena katanya Andik fans berat sama yang namanya Cristiano Ronaldo (kenapa ga ke Barca aja ya..). Pada kesempatan kali ini saya mau berbagi info-info tentang sejarah Andik Vermansyah.

Berikut Profile Andik Vermansyah :

Lahir : Sidoarjo, 23 November 1991
Umur : 20 tahun
Posisi : AMF SS CMF
Postur: 162
Berat: 57kg
Club : Persebaya 1927
Nomer : 3 (Timnas)
Tim Favorit : Persebaya, Juventus, Real Madrid

Karier :
Klub Junior
2007 – Persebaya Surabaya
2008 – PON Jatim
2008 – POM ASEAN

Klub Profesional
2008 – 2011 Persebaya Surabaya
2011 – Tim Nasional Indonesia U-23

Prestasi
* 2008 Perunggu POM ASEAN (Timnas Mahasiswa)
* 2008 Emas PON XVII Kaltim (Jatim)
* 2007 Emas Porprov I (Kota Surabaya)
* 2007 Juara Liga Remaja Regional Jatim (Persebaya U-18)

Makanan favorit : Tempe penyet
Pemain idola : Bejo Sugiantoro dan Cristiano Ronaldo
Nama ayah: Saman
Nama ibu: Jumiah

Pesona Andik seakan mengalahkan bintang-bintang sepak bola Indonesia yang lain. Seperti yang kita tahu, Boaz Salossa dengan skill dan kecepatan yang luar biasa. Tapi Andik beda beda beda dengan pemain Indonesia yang lain. He is "ngotott" "powerfull" "fast" "high skill" walaupun kecil-kecil cabe rawit. 

Banyak yang bilang Andik adalah Messi nya Indonesia, tapi menurut saya TIDAK. Andik is Andik, dia punya karakter dan gaya bermain sendiri walaupun dari segi postur 11-12 sama Messi. 

Apakah Andik mau bermain di luar negeri ?? 
Apa yang kamu tunggu lagi bro, bakat sudah ada, semua sudah ikhlas dukung kamu, pokoknya kalau main ga bakalan ngecewain bangsa kita.

Masa depan sudah ada didepan mata, mungkin jika Andik masih main di Liga Indonesia yang penuh dengan KEKACAUAN ini, bakat seorang Andik Vermansyah tidak akan berkembang.
Kapan lagi pemain Indonesia main di Liga Eropa :)
»»  LAGI CHOY...

Loyalitas Pemain Timnas Indonesia




Pertandingan itu memang bukan pertandingan final. Bukan pula pertandingan dengan rivalitas gila atau semacamnya. Tapi arti kemenangan malam itu terasa besar dan kami semua menyaksikannya.

Jam telah menunjukkan pukul 11.58 malam ketika kereta yang saya tumpangi terhenti di stasiun Chan Sow Lin. Ada hujan turun di luar stasiun, tapi tidak terlalu deras. Stasiun itu sudah sepi, hanya ada beberapa orang yang tengah menunggu kereta terakhir menuju Ampang di jalur sebaliknya, saya, teman-teman saya, dan beberapa suporter Malaysia.

Wajah para suporter Malaysia itu sumringah. Mereka seperti tak bermasalah diturunkan di sebuah stasiun yang sepi lantaran kereta yang kami naiki tiba-tiba berhenti beroperasi. Kereta pengganti akan segera tiba, katanya. Tapi, itu seperti bukan pengumuman penting buat mereka. Ada yang lebih penting hari itu: Malaysia menang 4-1 atas Laos.

Jika Anda adalah suporter sepakbola, tidak ada yang lebih menyenangkan dari sebuah kemenangan ketika tim Anda tengah dirundung hasil buruk. Malaysia seperti itu. Saking buruknya, pelatih tim nasional mereka dihujat, nyanyian yang harusnya jadi dukungan, berubah aroma menjadi nyinyir. Tapi, malam itu akhirnya suporter Malaysia bersorak. Tim mereka akhirnya menang juga setelah melewati serangkaian pertandingan yang tak berakhir menyenangkan.

Hujan yang tidak terlalu deras itu belum juga berhenti, dan tak beberapa lama kereta pengganti itu akhirnya tiba juga. Kami melanjutkan perjalanan, meninggalkan pertandingan yang kami saksikan beberapa jam sebelumnya. Pertandingan yang juga diguyur oleh hujan.

****

Ada mendung menggelayut di Bukit Jalil sore itu dan ada sekelompok suporter dari Indonesia menyanyikan "Bagimu Negeri" di bawahnya. Mereka mudah dikenali dengan atribut serba merah plus berbagai spanduk bertuliskan "The Maczman", "Viking", ataupun "Aremania". Jumlah mereka ratusan dan kebanyakan baru tiba di Kuala Lumpur. Hari itu, mereka datang bukan untuk mendukung klub masing-masing.

Ada ratusan suporter hari itu dan kelak mereka tidak akan berhenti bernyanyi di dalam stadion. Kelak dukungan dari mereka akan membuat Nil Maizar mengajak anak-anak buahnya berlari ke tribun selatan untuk membungkuk, memberi salam, dan berterima kasih kepada mereka. Kelak, mungkin, mereka akan berpesta -- atau minimal pulang dengan wajah sumringah seperti pendukung-pendukung Malaysia itu -- sepulang dari stadion. Saya berasumsi demikian karena Indonesia, tim yang hari itu mereka dukung, menang 1-0 atas Singapura.

Pelatih Singapura Radojko Avramovic mengatakan, kemenangan Indonesia berbau keberuntungan. Pelatih asal Serbia itu menyebut Indonesia bermain untuk mendapatkan satu poin, namun pada akhirnya malah mendapatkan tiga poin. Avramovic bebas berpendapat demikian. Tapi, cobalah ajukan pernyataan kepada ini kepada Irfan Bachdim, maka ia pasti akan membantahnya.

"Kami bermain lebih baik. Kami bertarung dengan baik. Jadi, mengapa kami disebut beruntung?" kata Irfan di hadapan para wartawan. Malam itu Indonesia memang bermain apik. M. Taufiq rajin menahan bola di lini tengah, seraya melihat ke daerah lain dan membagikannya ke rekan-rekannya. Fachruddin tampil solid di lini belakang. Sementara Andik Vermansah masuk di saat yang tepat. Kecepatannya, disebut Irfan, mematikan Singapura yang ketika itu sudah kelelahan.

Irfan begitu lugas dan antusias menjawab pertanyaan dari wartawan-wartawan di ruangan itu. Di sebelahnya, ada Nil Maizar. Dia baru saja mengatakan bahwa dirinya bangga dengan perjuangan yang diperlihatkan pemain-pemainnya. Ada raut puas tersirat di wajah keduanya.

Nil, yang sepanjang pertandingan tampak tidak berhenti memberi instruksi, dan meninggalkan bangkunya, tahu arti penting dari kemenangan itu. Timnya sudah lama mendapatkan sorotan dan stigma negatif, yang uniknya kebanyakan datang dari orang-orang di negeri sendiri. Usai Andik mencetak gol, ia tampak diam, sesekali menengadahkan kepalanya ke atas. Ia berdoa.

Momen Andik mencetak gol itu sendiri adalah momen penuh kelegaan yang luar biasa. Bagaimana tidak, sebelumnya Indonesia punya beberapa peluang, yang semuanya mentah lantaran penyelesaian akhir yang kurang baik atau pun ditepis kiper Mohamad Izwan Mahbud. Sementara di sisi lain, sundulan Aleksandar Duric membentur tiang, lalu Khairul Amri dinilai melakukan diving dan bukannya Wahyu Wijiastanto yang melakukan pelanggaran. Imbasnya Singapura tidak mendapatkan penalti dan justru Amri yang mendapatkan kartu kuning.

Keputusan wasit atas insiden yang disebut terakhir itu, plus kartu merah untuk Muhammad Irwan Shah, kelak akan membuat Avramovic protes dan mengaku kecewa kepada kepemimpinan wasit. Namun, bagi Indonesia dan pendukungnya yang menonton malam itu, tak ada kejadian yang lebih penting selain gol yang dicetak Andik.

Tendangan Andik melengkung ke arah tiang jauh, melewati jangkauan Izwan. Gol itu disebut indah oleh Taufiq, sahabatnya sendiri, namun Andik dengan enteng hanya menyebutnya sebagai sebuah kebetulan.

Setelah kerap dianggap sebagai tim kelas dua dan tidak diunggulkan, juga ditahan imbang oleh Laos, siapa sangka Indonesia justru bisa mengubur kutukan tak pernah menang atas Singapura lewat gol tersebut. Suporter yang tak berhenti bernyanyi dan jumlahnya hanya ratusan itu meledak. Tak terkecuali orang-orang Indonesia lain yang bukan suporter dan menyaksikan gol itu.

Saya tidak tahu apa jadinya jika saya pulang dengan kereta yang berbeda, dengan kereta ditumpangi oleh suporter-suporter Indonesia itu. Mungkin saya akan menyaksikan pemandangan berbeda. Mungkin saya akan melihat wajah-wajah sumringah mereka, dan bukannya suporter Malaysia, dan menyanyikan chant-chant atau nyanyian entah apalah itu. Sebisa mungkin malam itu mungkin akan mereka nikmati. Indonesia memang belum mendapat apa-apa, lolos pun belum, tapi kemenangan sekecil apa pun memang layak untuk dinikmati.

****

Kereta pengganti itu kemudian membawa saya sampai ke stasiun dekat tempat saya menginap. Saya kemudian bertemu dengan rekan saya, Rachman Haryanto, fotografer redaksi kami. Hujan yang tidak terlalu deras itu masih mengguyur ketika dia menceritakan momen gol Andik versi dirinya sendiri. Kebetulan, dia berada paling dekat dari gawang ketika gol itu terjadi.

"Gue udah feeling itu bakal jadi gol. Makanya nggak pergi ke mana-mana buat ambil gambarnya. Kemarin 'kan sempat lihat dia latihan sendirian di pojok kepisah sama teman-temannya, latihan tendangan bebas sama pelatihnya. Makanya, yakin itu pasti bakal jadi gol," ucap partner saya itu.

Sehari sebelum pertandingan, kami memang menyaksikan Andik berlatih tendangan bebas di bawah arahan asisten pelatih timnas, Fabio Oliveira. Siapa sangka, momen yang kami saksikan sebentar itu justru memberikan ide buat Rachman.

Ia kemudian menyaksikan dan mengabadikan 10 orang pemain Indonesia maju ke depan gawang untuk merayakan gol Andik, sementara Andik-nya sendiri menari sebelum dirubung rekan-rekannya itu. Foto hasil jepretannya begitu sederhana, namun saya pribadi senang melihat momen 10 orang pemain berbaur merayakan gol yang sudah mereka tunggu-tunggu itu. Ada cipratan spirit tim tidak tertulis di foto itu.

Cerita-cerita dari kemenangan di Bukit Jalil semalam mungkin bisa lebih beragam lagi, tergantung siapa yang menuturkan dan menikmatinya. Suporter Indonesia menyaksikannya dengan perasaan puas, meski tahu kemenangan tersebut tak mengantarkan Indonesia ke mana-mana, kecuali memperlebar kans lolos dari fase grup. Irfan sendiri menyatakan, setelah ini Indonesia akan kembali ke realita: mereka belum lolos dan masih ada Malaysia untuk dilawan. Mungkin, sehabis ini, yang bakal jadi pembicaraan bukanlah gol Andik lagi, tapi hitung-hitungan poin supaya Indonesia lolos.

Tapi, menikmati kemenangan memang bukan hal yang salah. Maka, layaklah menikmati kemenangan itu selagi bisa.

»»  LAGI CHOY...