Breaking News
Loading...
Friday, August 31, 2012

Psikologi Humanistik dan tasawuf


Psikologi dan tasawuf sama-sama membicarakan unsur-unsur manusia yang menjadi hakikat eksistensi diri. Drive, karakter dan locus spiritual juga menjadi kajian keduanya. Meski demikian, satu hal yang tak terbantah, tasawuf  tidak sekedar “meraba” sisi luar dan agak dalam diri manusia.
            Sebagai missal, jika dalam psikologi humanistic pengembangan pribadi untuk menjadi self actualized people ditandai dengan prilaku yang baik dan lurus serta memilki pengalaman peak experience. Tidak demikian dengan tasawuf, dalam tasawuf untuk menjadi pribadi insane kamil dicirikan tidak saja memiliki pengalaman trasendental dan akhlak terpuji tetapi juga mencerminkan akhlak citra ilahi.
            Benar kedua pandangan diatas sama-sama menganggap pengembangan pribadi merupakan tujuan fundamental, akan tetapi psikologi humanistik tertuju pada pengembangan pribadi, pada potensi yang didasari oleh kebutuhan dasar hierarkis. Sebaliknya, ilmu tasawuf menembus potensi batiniah. Pendek kata, pengembangan pribadi pada psikologi humanistic sebatas dimensi eksoteris, sementara ilmu tasawuf  penekanannya pada dimensi esoteric.
            Fakta inikah yang kemudian membuat Maslow sebelum wafatnya (ujug-ujug) mencantumkan satu kubutuhan dasar manusia lagi yang diistilahinya dengan transpersonal? Wallahua’lam! Yang pasti rani memiliki jawaban pertanyaan yang sedikit “menggelitik” itu. Malah dengan tegas rani menilai bahwa Psikologi Huamnistik, tak ubahnya seperti ilmu psikologi modern lainnya, telah gagal “mengawal” masyarakat modern kepada kehidupan yang lebih “fresh” dan “soft”.
            Meski demikian, ibarat dalam sebuah kelompok orkestra, rani bak seorang dirigen yang mengorkestrasikan  agar sebuah  tampilan berpadu-padan, selaras, apik terlihat mata dan nyaman diterima hati. Rani mampu mempertemukan “titik pandang” psikologi dengan tasawuf dalam mengatasi problem kejiwaan manusia modern. “kekurang mampuan psikologi  dalam menjawab persoalan hidup inilah yang menyebabkan saya berfikir akan perlunya metode pengembangan pribadi yang holistik, demi melahirkan sosok pribadi humanis yang sufistik.”
            Maslow memperkenalkan dengan istilah transpersonal yang diidentikkannya dengan realisasi akan kebutuhan transendensi diri. Dan sebenarnya diantara kebutuhan akan aktualisasi diri, sebenarnya terdapat meta-kebutuhan (meta-needs) yang diistilahkan sebagai ebutuhan aakan kebermaknaan, kebutuhan luhur nilai-nilai insaniah (being valued), seperti kebutuhan memilki kesempurnaan, keindahan, keunikan, kebenaran atau kebahagiaan.
            Itulah sedikit hubungan antara  Psikologi Humanistik dan tasawuf yang telah kami uraikan sesuai dengan yang terdapat dalam majalah Cahaya Sufi. Bagi pembaca yang ingin member saran dan komentar silahkan ditautkan dalam kotak kritik dan saran di bawah ini.

3 comments:

  1. peak experiance itu apa yaaa?? mampir jg di blog sya yaa.. bnyk artikel psikologi juga hehe

    ReplyDelete
  2. peak expriance ap ya gan artinya??

    ReplyDelete
  3. TERIMA KASIH ATAS ILMUNYA

    http://http%3A%2F%2Fblog.binadarma.ac.id%2Firman_effendy.wordpress.com

    ReplyDelete

PEDOMAN KOMENTAR
Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.